Prod Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA dan KH Imam Jazuli, Lc, MA. Foto: BIMA
Oleh: Dr. H. Dasuki, M.Pd
Pertemuan dua figur berlangsung Minggu, 25 Januari 2026, di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (Bima), Cirebon, bukan sekadar silaturahmi biasa. Kehadiran Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum PP Pergunu di hadapan tuan rumah KH. Imam Jazuli, Lc., M.A. dan ratusan kader Pergunu Jawa Barat, menjadi sinyal kuat arah baru masa depan Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35.
Pertemuan ini semakin krusial jika dikaitkan dengan hasil polling terbaru dari padaSukaTV, yang menempatkan pasangan Kiai Imam Jazuli dan Kiai Asep di urutan pertama sebagai kandidat paling diinginkan oleh akar rumput Nahdliyin. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan manifestasi dari kegelisahan warga NU yang merindukan kepemimpinan yang berbasis pada karya nyata dan kemandirian pesantren.
Alasan utama yang memperkuat duet ini adalah kesamaan visi dalam transformasi Sumber Daya Manusia (SDM). Baik Kiai Imam Jazuli maupun Kiai Asep telah "selesai" dengan urusan domestik pesantren mereka; kini mereka fokus pada proyek besar: mencetak generasi Nahdliyin yang mampu mengisi ruang-ruang strategis di level nasional dan global.
Dalam orasinya semalam, nampak jelas bahwa pendidikan adalah garda terdepan. Kiai Asep dengan Amanatul Ummah-nya telah membuktikan bahwa santri bisa menembus fakultas kedokteran dan universitas top dunia. Di sisi lain, Kiai Imam Jazuli melalui Bina Insan Mulia telah melakukan disrupsi pendidikan pesantren dengan mengirimkan ratusan alumni ke berbagai belahan dunia setiap tahunnya.
Keduanya memiliki kesamaan pandangan mengenai urgennya menghidupkan kembali NU melalui penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, pendidikan berkualitas, dan kaderisasi yang terstruktur. Kiai Asep dan Kiai Imam Jazuli sepakat bahwa pendidikan adalah kunci utama (kaderisasi) untuk mencetak kader NU yang tidak hanya mumpuni secara keagamaan, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hal tersebut bukan sekadar retorika; Kiai Asep melalui Pesantren Amanatul Ummah dan Kiai Imam Jazuli melalui Pesantren Bina Insan Mulia telah terbukti konsisten mencetak generasi muda yang berdaya saing global.
"Saatnya NU tidak cukup hanya ngurusi orang meninggal, mulai dari talqin, 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, hingga haul. Itu penting, tapi yang mendesak adalah ngurusi yang masih hidup," ujar Kiai Imam dalam sambutannya yang berapi-api di depan kader Pergunu, ketika menakar masa depan NU.
Statemen ini menekankan bahwa NU harus berfokus pada peningkatan SDM yang mampu bersaing, peningkatan taraf ekonomi warga, serta penguatan pola pikir yang modern namun tetap santun. Dengan menyiapkan kader yang unggul, diharapkan NU mampu bertransformasi. Tidak hanya kuat di struktur keagamaan, tetapi juga siap secara sosial-politik dan berdaulat secara ekonomi.
Sinergi antara Kiai Asep dan Kiai Imam Jazuli menjadi jawaban atas kebutuhan NU di Muktamar ke-35 nanti: sebuah transformasi dari jam'iyah yang lebih sering hanya fokus pada tradisi ritual menjadi penggerak peradaban, pendidikan, dan ekonomi umat.
Visi tersebut adalah jawaban langsung terhadap tantangan Indonesia Emas 2045. Mereka tidak lagi bicara tentang NU yang sekadar menjadi objek politik, melainkan NU sebagai subjek pembangunan yang menyiapkan teknokrat, diplomat, dokter, dan ilmuwan yang berkarakter santri. Keunggulan duet ini dalam polling PadaSukaTV dapat dianalisis melalui tiga aspek.
Pertama, Kemandirian Ekonomi dan Organisasi.
Masyarakat melihat keduanya sebagai figur yang mandiri secara finansial. Hal ini memberikan jaminan bahwa PBNU di masa depan tidak akan mudah "disetir" oleh kepentingan donor politik praktis. Mereka membawa modal kemandirian pesantren ke dalam struktur organisasi.
Kedua. Representasi Geopolitik Jabar-Jatim.
Pertemuan di Cirebon (Jawa Barat) semalam menegaskan soliditas poros Jabar-Jatim. Kiai Imam Jazuli sebagai motor penggerak pemikiran progresif di Jawa Barat, bersanding dengan Kiai Asep yang merupakan pilar utama dari Jawa Timur. Ini adalah kombinasi kekuatan kultural NU yang paling stabil.
Ketiga. Keseimbangan Intelektual dan Spiritual
Kiai Imam Jazuli mewakili figur intelektual muda yang tajam dan berani melakukan terobosan manajemen tetapi secara spiritul juga kuat dikenal sebagai Mujiz Dalailul khairat, sementara KH.Asep adalah sosok kiai sepuh yang alim, ahli riyadhah (jalur langit), namun memiliki eksekusi manajerial yang handal melalui Pergunu.
Jadi, pertemuan 25 Januari 2026 di Bina Insan Mulia ini adalah momentum "pulang ke rumah" bagi NU. Selama ini, ada kesan bahwa struktur NU mulai menjauh dari akar rumput pesantren. Duet KH. Imam Jazuli sebagai calon Ketua Umum Tanfidziyah dan Prof. KH. Asep Saifuddin Chalim sebagai calon Rais Aam adalah upaya rekonsiliasi historis untuk mengembalikan marwah NU ke tangan para kiai yang benar-benar mengasuh santri.
Dukungan publik yang terekam dalam polling SukaTV menunjukkan bahwa Nahdliyin menginginkan pemimpin yang "berkarya dulu, baru memimpin", bukan yang "memimpin dulu untuk mencari karya." Duet KH. Imam Jazuli dan Prof. KH. Asep Saifuddin Chalim adalah jawaban atas teka-teki kepemimpinan NU di era disrupsi.
Pertemuan semalam di Cirebon bukan sekadar seremonial Pergunu, melainkan deklarasi diam-diam tentang kesiapan mereka membawa NU menjemput Indonesia Emas 2045. Jika Muktamar ke-35 menginginkan NU yang mandiri, berkelas dunia, dan tetap teguh pada tradisi pesantren, maka pasangan ini adalah pilihan yang tidak bisa dielakkan lagi. Melalui pendidikan, mereka membangun peradaban. Melalui kemandirian, mereka menjaga martabat organisasi.***
Penulis, Ketua Pergunu Kabupaten Cirebon






