Sabtu, 27 Februari 2021 13:30

​Dahlan Iskan: GeNose, Deteksi Covid-19 Lewat Napas, Cuma Rp 35 Ribu, 5 Menit Selesai

Rabu, 20 Januari 2021 16:28 WIB
Editor: MMA
​Dahlan Iskan: GeNose, Deteksi Covid-19 Lewat Napas, Cuma Rp 35 Ribu, 5 Menit Selesai
Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Penemuan alat baru terus bermunculan, terutama terkait upaya memutus mata rantai Covid-19. Yang membanggakan penemuan-penemuan baru itu justru datang dari universitas dalam negeri. Bukan luar negeri. 

Yang terbaru penemuan alat deteksi Covid-19 hasil kreativitas tim Universitas Gajah Mada (UGM) yang dikomandani Prof. Dr. Kuwat Triyana.

“Yang ditemukan tim UGM ini lebih membanggakan lagi –meski lebih belakangan. Temuan itu bisa mengatasi banyak hal: perlunya semakin banyak tes, kecepatannya, dan murahnya,” tulis Dahlan Iskan dalam Disway yang juga dimuat HARIAN BANGSA, Rabu (20/1/2021) hari ini.

Yang menemukannya: seorang dosen fisika dari MIPA-UGM: Prof. Dr. Kuwat Triyana dibantu dr. Dian Kesumapramudya Nurputra.

“Tes Covid cara UGM ini tidak pakai cairan dari hidung. Tidak pula dari tenggorokan. Pun tidak perlu reagen. Tidak pakai lama pula. Kurang dari lima menit sudah ketahuan hasilnya,” tulis wartawan kawakan itu.

(Prof Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si. foto: Humas UGM/kagama.co)

Memang ini tes cara baru. Teknologi baru. Penemunya pun bukan dokter. Pakai prinsip fisika.

Yang dites adalah udara dari napas. Caranya: tiupkan udara dari mulut ke kantong plastik. "Kantong plastiknya khusus," ujar Prof. Kuwat kepada Dahlan Iskan lewat telepon. "Udara di kantong plastik itulah yang dimasukkan ke alat GeNose," tambahnya.

Udara itu masuk komputer. Yang terhubung dengan artificial intelligent dan cloud. Oleh komputer udara itu dianalisis cepat. Muncul hasil.

“Saya sengaja menghubungi Prof Kuwat kemarin. Untuk mengucapkan selamat. Dan salut. Dan bangga,” kata Dahlan Iskan yang mantan menteri BUMN itu.

Menurut Dahlan, Prof Kuwat orang dari desa. Rumah asalnya 10 kilometer di utara kota Boyolali, Jateng. Ia lulusan SMAN 1 Boyolali. Lalu ke UGM.

Prof. Kuwat memang dikenal punya banyak penelitian yang berat-berat. Setelah lulus UGM, Kuwat melanjutkan ke ITB. Dengan tesis ''Prototype of Pattern Recognition System in Electronic Nose Base on Artificial Neural Network''.

Dari ITB, Kuwat melanjutkan program doktor ke Jepang. Ke Kyushu University. Dengan disertasi: Heterojunction Organic Photovoltaic Based on Phthalocyanine and Perylene.

Grup penelitiannya berada di kelompok fisika material, elektronika hidung dan mulut dan instrumentasi.

Prof Kuwat selalu mengajak dokter satu ini di setiap penelitiannya: Dokter Dian. “Semula, dr Dian saya kira perempuan. Ternyata laki-laki. Terlihat dari nama terakhirnya: Dian Kesumapramudya Nur putra. Ia dokter spesialis anak. Pinter sekali,” tulis Dahlan lagi.

(dr. Dian Kesumapramudya Nurputra. foto: researchgste.net)

Penelitian pertama Kuwat-Dian adalah di penyakit TBC, infeksi mulut sampai ke penyakit akibat narkotika. Itu tahun 2016. Sampai sekarang masih berlanjut.

Lalu ada juga penelitian di bidang yang lebih mendesak: penyakit lumpuh layu. Yang biasanya baru ketahuan setelah dewasa. Lantas tidak bisa tertolong. "Padahal harusnya bisa diketahui ketika masih anak-anak," ujar Prof Kuwat.

Ketika ada pandemi, penelitian itu diarahkan juga ke Covid-19. Dengan bantuan Badan Intelijen Negara (BIN). Sampai berhasil sekarang ini.

(GeNose, alat pendeteksi Covid-19 dari tim UGM. foto: ugm.ac.id) 

Di proses uji coba GeNose itu sudah di cross-check ke sistem PCR. Mereka yang negatif di GeNose juga negatif di PCR. Demikian juga sebaliknya. Dengan persentase kesamaan 92 persen lebih.

“Penemuan Prof Kuwat ini akan menyelesaikan banyak hal. Bayangkan, 5 menit selesai. Bayangkan, biayanya hanya Rp 35.000-an. Begitu murah dibanding PCR yang ratusan ribu rupiah itu,” tulis Dahlan lagi.

Pun setelah vaksinasi nanti. Tetap bermanfaat besar. Untuk terminal-terminal bus, stasiun KA, pelabuhan, dan terutama di bandara.

Itu bisa ikut mengatasi ancaman gelombang kedua Covid-19 –kalau ada. Sekarang ini terlalu banyak penularan dari orang yang merasa sehat. Padahal orang itu mungkin saja kena Covid. Hanya tidak merasa. Tapi tetap bisa menularkan.

Itulah problem di mana-mana di dunia sekarang ini. Termasuk di Tiongkok. Orang seperti tanpa Covid menularkan Covid.

Temuan Prof Kuwat bisa ikut mengatasinya. Justru karena praktis, murah, dan kecepatannya.

Kok namanya GeNose?

"Dulunya saya beri nama e-Nose. Electronic-Nose. Waktu masih untuk TBC, belum untuk Covid-19," ujar Prof Kuwat. "Tambahan G itu karena ini Gadjah Mada," katanya.

Tapi seberapa kuat Prof Kuwat?

"Ayah saya petani. Awalnya beliau memberi nama saya Riyono saja," ujar Prof Kuwat.

Lalu, waktu SD sering berkelahi. Selalu menang. Riyono dianggap kuat sekali. Maka ketika lulus SD, di ijazahnya tertulis nama: Kuwat Triyana (baca: Triyono).

Zaman itu di desa seperti itu. Terutama kalau ada beberapa murid dengan nama sama.

Ternyata Kuwat memang kuat.

“Saya yang justru masih tetap di RS. Belum juga negatif Covid, setelah 9 hari opname.

Fisikawan seperti Prof Kuwat dan dokter anak seperti Dian telah mencatatkan karya kebanggaan nasional,” puji Dahlan Iskan yang tulisanya dibaca orang seantero Indonesia bahkan orang-orang di luar negeri. (*)

Dua Warga Kepulungan yang Terseret Banjir Bandang Ditemukan Tewas
Kamis, 04 Februari 2021 17:21 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Dua warga Desa Kepulungan Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, yang dilaporkan hilang akibat terseret derasnya arus banjir Rabu (3/2) kemarin, akhirnya ditemukan dalam kondisi tewas, Kamis (4/2) pagi. Korban adalah ...
Kamis, 07 Januari 2021 16:58 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Pamekasan dalam masa pandemi ini tetap bertekad memberikan wahana hiburan rekreasi sekaligus olahraga, terutama bagi anak-anak dan usia dini.Melalui kapasitas dan potensi...
Sabtu, 27 Februari 2021 06:11 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Perdebatan Dahlan Iskan, wartawan kawakan, dengan Irwan Hidayat, pemilik pabrik jamu Sido Muncul ini menarik. Irwan Hidayat mengaku sukses karena hoki, bukan hasil kerja keras. Tapi Dahlan Iskan menolak, tak percaya...
Senin, 22 Februari 2021 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*58. Warabbuka alghafuuru dzuu alrrahmati law yu-aakhidzuhum bimaa kasabuu la’ajjala lahumu al’adzaaba bal lahum maw’idun lan yajiduu min duunihi maw-ilaanDan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. ...
Sabtu, 27 Februari 2021 11:53 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wono...