Rabu, 16 Juni 2021 15:35

Adu Dalil Vaksin AstraZeneca, Kiai Asep: Istihalah dan Ihlak Tertangkal oleh Intifak

Minggu, 28 Maret 2021 07:35 WIB
Editor: Tim
Wartawan: Rochmad Aris
Adu Dalil Vaksin AstraZeneca, Kiai Asep: Istihalah dan Ihlak Tertangkal oleh Intifak
Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. Foto: MMA/ BANGSAONLINE.COM

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com – Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., mengaku sangat mendukung vaksinasi yang sedang gencar dilakukan pemerintah. Tapi ia menolak penggunaan vaksin AstraZeneca. Ia bahkan minta pemerintah tidak mendistribusikan vaksin AstraZeneca pada pondok pesantren.

Alasannya, produksi vaksin asal Inggris itu diketahui melalui proses penggunaan tripsin babi.

Ia sepakat dengan keputusan komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menghukumi Vaksin AstraZeneca haraman mubahan liddlarurat (haram tapi boleh digunakan karena darurat).

“Tapi kalau kondisinya sudah tak darurat tak boleh digunakan. Karena itu pemerintah harus mengupayakan vaksin yang halal,” kata Kiai Asep.

BACA JUGA : 

Sudah Divaksin, 9 Anggota DPRD Surabaya Tertular Covid-19

Jatim Cetak Tren Vaksinasi Tertinggi se-Indonesia ​dalam Program 'Serbuan Vaksinasi'

​Bangun Rumah Janda Mojokerto yang Terbakar, Kiai Asep: Kita Harus Malu pada Ibu Gubernur Khofifah

Di Depan 200 Ulama, Kiai Asep Buka Rahasia Sukses Bisnis di Pesantren

Menurut Kiai Asep, jika pemerintah terlanjur membeli vaksin AstraZeneca, distribusikan saja pada masyarakat di Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT), serta daerah lain yang mayoritas non muslim yang tak mengharamkan babi.

Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu mengaku tak sejalan dengan Ketua MUI Jatim KH. Hasan Mutawakkil Alallah yang menyatakan vaksin AstraZeneca halalan thayyiban. Menurut dia, fatwa itu tak benar karena hanya menggunakan dasar istihalah (perubahan bentuk) dan ihlak (penghancuran). Dalam pandangan MUI Jatim, tripsin pangkreas babi dalam proses produksi vaksin AstraZeneca tidak najis karena sudah berubah bentuk.

Menurut Kiai Asep, dalam pandangan mereka istihalah disamakan dengan ihlak, tidak ada nilai-nilai babinya. Tapi alasan itu tak kuat. “Istihalah dan ihlak tertangkal oleh intifak,” tegas kiai ahli matematika dan ilmu pengetahuan alam itu. “Artinya, bisa menjadi vaksin karena ada tripsin pangkreas babinya,” kata Kiai Asep kepada wartawan di Guest House Institut KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto, Sabtu (28/3/2021) .

Menurut Kiai Asep, intifak itu tak bisa dihilangkan. “Buktinya apa? Jadi vaksin! Tanpa ada pankreas babinya tak akan jadi vaksin. Keharaman intifak, baru pada pemikiran saja sudah haram, apalagi sudah ada realisasinya,” tegas kiai yang fasih bahasa Inggris dan bahasa Arab itu.

Kiai Asep mengingatkan bahwa Imam Syafii dan Imam Hambali mengajarkan istihalah atau perubahan bentuk dari benda najis menjadi tidak najis hanya berlaku pada tiga hal. “Pertama, ketika arak berubah secara alami (tidak direkayasa manusia) menjadi cuka,” kata Kiai Asep.

Kedua, kulit bangkai binatang yang disamak selain binatang babi dan anjing. Ketiga, anak ayam yang menetas dari telur yang dikeluarkan dari ayam mati tidak disembelih. 

Menurut Kiai Asep, alasan istihalah sangat terbatas. Tak boleh diobral. “Ini sangat bahaya. Karena bisa jadi pintu masuk semua produk olahan babi dihalalkan dengan istihalah. Karena semua produk babi pasti dengan cara istihalah semua, tidak mungkin gelondongan langsung berupa babi,” kata Kiai Asep yang saat pilpres aktif menggalang para kiai untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin serta kampanye hingga luar negeri.

Selain itu, kata Kiai Asep, juga berakibat pada mandulnya doa umat Islam. Karena, kata Kiai Asep, doa akan terkabul jika tubuh kita bersih dari makanan haram dan najis. Sedang babi masuk kategori najis berat (mughalladhah

Karena itu Kiai Asep melarang vaksin AstraZeneca disuntikkan pada para santrinya yang berjumlah sekitar 12.000 orang serta 1.000 lebih guru di lingkungan Pondok Pesantren Amanatul Ummah.

Bahkan, menurut Kiai Asep, untuk Amanatul Ummah hukumnya bukan lagi haraman mubahan liddlarurah. “Kalau di Amanatul Ummah haraman mutlaqan. Haram mutlak karena di sini tidak ada darurat. Sudah setahun lebih proses pembelajaran berjalan di Amanatul Ummah tapi tidak ada kasus santri yang terkena covid-19,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu. (ris)  

Demam Euro 2021, Warga Desa di Pasuruan Ini Kibarkan Ratusan Bendera Ukuran Raksasa
Senin, 14 Juni 2021 23:58 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Euforia sepak bola Piala Eropa atau Euro tahun 2021 menggema di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di tanah air. Warga pesisir di Kabupaten Pasuruan misalnya, mereka ikut memeriahkan perhelatan Euro 2021 dengan mema...
Jumat, 04 Juni 2021 10:27 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Bukit Kehi, destinasi wisata yang satu ini berada di Kota Pamekasan. Bukit Kehi menawarkan pemandangan daerah pegunungan yang hijau mempesona. Pengunjung bahkan bisa berenang di sejuknya hawa pegunungan di pulau gar...
Rabu, 16 Juni 2021 08:42 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Laksamana Sukardi, mantan politikus PDIP, menulis buku. Baru terbit. Ia menceritakan perisitiwa pemecatan dirinya sebagai Menteri BUMN. Yang hanya menjabat 6 bulan. Ia dipecat Presiden Gus Dur. Karena ada lapora...
Minggu, 16 Mei 2021 06:58 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*65. fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaanLalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berika...
Sabtu, 12 Juni 2021 09:55 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...