Sabtu, 08 Mei 2021 21:15

Ekonomi Tiongkok Tumbuh 20 Persen, India 12 Persen Tapi Covid-19 Gila-gilaan

Kamis, 22 April 2021 09:45 WIB
Editor: mma
Ekonomi Tiongkok Tumbuh 20 Persen, India 12 Persen Tapi Covid-19 Gila-gilaan
Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Banyak negara mulai mengumumkan pertumbuhan ekonominya setelah didera pandemik Covid-19. Yang paling tinggi Tiongkok. Tapi pertumbuhan ekonomi India juga mengejutkan. Hanya saja Covid-19 di India gila-gilaan. Setiap hari penderita Covid-19 bertambah 200.000.

Lalu bagaimana Amerika dan Singapura? Dan kenapa ekonomi Tiongkok tumbuh pesat? Silakan baca tulisan Dahlan Iskan, wartawan kondang ini di Disway dan HARIAN BANGSA. Dibawah ini BANGSAONINE.com menurunkan tulisan mantan menteri BUMN itu secara lengkap. Selamat menikmati:

INI gila-gilaan: ekonomi Tiongkok tumbuh hampir 20 persen tiga bulan pertama tahun 2021. Singapura hanya jalan di tempat: tumbuh hampir 0 persen – tepatnya 0,2 persen.

Amerika tumbuh 5,4 persen. Itu sudah disambut dengan gegap gempita: sebagai tanda kembalinya ekonomi sebelum pandemi.

BACA JUGA : 

Ketika Surat Kabar The Straits Times Singapura Jadi Lembaga Not For Profit

​Ekonomi Triwulan Pertama 2021 Minus, Covid Varian Baru juga Mencemaskan

​Melaju Tanpa Pengemudi, Pemilik Tesla itu Mungkin Dokter Bonek

Heboh Putri AM Fatwa Bakal Bersuami Bule Kristen, Warganet Salfok Foto

India juga tumbuh mengejutkan: 12 persen. Tapi keadaan di sana sangat mengkhawatirkan. Covid-19 merajalela lagi. Hari-hari ini jumlah penderita Covidnya bertambah gila-gilaan: di atas 200.000 setiap hari. Terutama sejak adanya perayaan agama dua minggu lalu: jutaan orang mandi di sungai Gangga –di bagian hulunya.

Negara lain belum memublikasikan angka pertumbuhan ekonomi mereka.

Soal kejutan pertumbuhan ekonomi Tiongkok itu ada yang membuat geleng kepala. Sumbangan terbesar pertumbuhan itu justru dari Wuhan. Tepatnya dari provinsi Hubei yang ibu kotanya di Wuhan.

Ekonomi provinsi Hubei tumbuh hampir 60 persen. Itu seperti sulapan. Padahal tiga bulan pertama tahun lalu minus 40 persen.

Provinsi Hubei memang sangat besar –ekonominya. Penduduknya 58 juta orang. Industrinya kuat sekali.

Wuhan, begitu cepat berubah. Cepat bertindak lalu cepat bangkit. Padahal Wuhan paling menderita –sebagai yang pertama terkena pandemi. Wuhan di-lockdown total: 76 hari awal tahun lalu.

Kelihatannya cepat bertindak lalu cepat bangkit seperti itu terjadi di seluruh Tiongkok. Ketika diserang Covid-19 Tiongkok sangat cepat bertindak. Satu komando. Semua harus menurut pemerintah. Termasuk saat pemerintah melakukan lockdown yang amat kejam.

Sampai-sampai ekonomi Tiongkok saat itu berhenti total. Pertumbuhan ekonominya minus 6,6 persen tahun lalu. Rasanya itu penurunan ekonomi Tiongkok paling dalam di dunia.

Lalu cepat bangkit.

Tiga bulan terakhir tahun 2020 tumbuhnya sudah 19 persen. Itu sudah sangat menggemparkan. Maka pertumbuhan 18,13 persen tiga bulan pertama tahun ini sebenarnya tidak lagi terlalu mengejutkan. Bahkan ada yang menilai ''kok tidak lebih hebat dari triwulan terakhir tahun lalu''.

Lalu ada pengamat ekonomi yang memproyeksikan salah. Penurunan itu dikira tren yang akan terus terjadi.

Saya melihat lain: penurunan tipis di tiga bulan pertama 2021 semata-mata karena Imlek dan Cing Bing. Dua-duanya terjadi di triwulan pertama 2021.

Liburan panjang Imlek pasti membuat produktivitas turun. Di sekitar tahun baru Imlek itu sekitar 400 juta orang melakukan perjalanan mudik. Ditambah lagi liburan Cing Bing ketika sebagian besar orang melakukan kunjungan ke kubur orang tua.

Tapi memang tetap menarik dilihat apa yang akan terjadi tiga bulan berikut nanti. Yang jelas Tiongkok sendiri tahun ini sebenarnya hanya akan menargetkan pertumbuhan ekonomi 6,5 persen. Maka kalau pertumbuhan yang terjadi tiga bulan terakhir masih berlanjut lagi betapa meroketnya ekonomi Tiongkok.

IMF sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok 8,4 persen di tahun 2021. Ramalan lembaga ekonomi dunia itu sudah jauh lebih baik dari kenyataan tahun lalu yang minus 6,6 persen.

Belum pernah terjadi dalam sejarah Tiongkok –sejak ekonomi dibuka tahun 1979– mengalami minus 6,6 persen. Bahkan sekadar minus pun belum pernah. Selalu meningkat dengan angka hampir rata-rata 9 persen.

Pun pertumbuhan tiga bulan pertama sebesar 18,3 persen itu: belum pernah terjadi setinggi itu. Dalam sejarah ekonomi Tiongkok sejak 1979.

Kuncinya: mereka lockdown sangat awal. Dengan sebenar-benar lockdown. Lalu melakukan manajemen tracing Covid lewat Apps sangat dini. Melakukan tes Covid berdasar kawasan. Mengatur kedatangan pesawat dari luar negeri hanya di empat kota. Menggiring seluruh penumpang ke tempat karantina dengan bus sejak dari bandara. Menemukan vaksin sangat awal. Lalu memprioritaskan vaksinasi untuk pelayan kesehatan dan mereka yang akan keluar negeri –untuk urusan bisnis.

Maka bisnis jalan terus. Di dalam negeri mereka sudah bangkit sejak pertengahan tahun lalu.

Dengan menceritakan itu saya hanya akan menunjukkan bahwa semangat maju memang seperti itu. Di segala bidang.

Pembukaan jalur darat Tiongkok ke Eropa memang sudah dilakukan sejak 10 tahun lalu. Tapi hasil nyatanya dipanen dalam masa Covid ini. Kini tiap hari ada rangkaian panjang kereta api dari 34 kota di Tiongkok ke 28 kota di Eropa. Ekspor ke Eropa tidak lagi hanya lewat laut.

Pun ketika terusan Suez ''buntu'' akibat kapal raksasa Ever Given kandas di situ. Tiongkok langsung melihatnya sebagai peluang bisnis: ditawarkanlah kepada Mesir. Untuk membangun kapal tarik baru yang besar. Buatan Tiongkok. Yang tenaganya: 80 ton.

Osama Rabie, CEO otoritas Terusan Suez mengatakan pihaknya sudah setuju membeli kapal tarik sebesar itu dari Tiongkok. Jumlahnya lima buah sekaligus. Yang pertama sudah akan dikirim 14 bulan setelah hari ini. Sisanya 20 bulan dari sekarang.

Lain kali, kalau Ever Given kandas lagi di lokasi yang sama Mesir sudah punya kapal tarik sendiri. Yang terbesar pula: 5 x 80 ton.

Tiongkok sendiri sangat berkepentingan dengan lancarnya Terusan Suez. Ekspornya ke Eropa praktis tergantung pada terusan itu. Yang di sebagian selatan lebarnya hanya 200 meter -padahal panjang kapal Ever Given 400 meter.

Kapal-kapal sebesar Ever Given akan kian banyak di masa depan –untuk menurunkan ongkos kirim. Kian besar kapal, kian murah ongkos kirim per kg.

Negara yang punya barang sebanyak yang bisa memenuhi kapal sebesar Ever Given mana lagi kalau bukan Tiongkok. Ever Given sendiri hari itu berangkat dari Shenzhen, Tiongkok. Lalu mampir Tanjung Pelepas di Malaysia. Dengan tujuan akhir Amsterdam.

Kini kapal itu ditahan oleh Mesir di Danau Pahit –di pertengahan Terusan Suez. Kalau pemilik kapal sudah mau membayar Rp 14 triliun barulah kapal dilepas. Itu sebagai biaya mengambangkannya, mengganti hilangnya pendapatan Suez selama 1 minggu, dan rusaknya nama baik Mesir.

Tentu perusahaan Jepang yang harus membayar ganti rugi itu akan menawar. Juga akan menunggu uang dari asuransi.

Yang menunggu uang itu secara tidak langsung bukan hanya Mesir. Tentu juga perusahaan galangan kapal Tiongkok yang akan membangun 5 kapal tarik raksasa itu.

Bagi Tiongkok semua harus dimanfaatkan untuk pertumbuhan ekonomi.

Peluang lain terjadi lagi minggu lalu. Ketika Presiden Joe Biden memutuskan menarik total tentara Amerika dari Afghanistan. Amerika ingin mengakhiri sejarah perang panjang di sana.

Kekosongan itu tentu akan langsung menguntungkan Tiongkok. Apalagi Afghanistan berbatasan dengan Tiongkok. Kalau pun tidak bisa langsung transaksi dengan Afghanistan masih bisa lewat Pakistan. Pakistan adalah negara yang punya hubungan khusus dengan Afghanistan. Dan Tiongkok punya hubungan khusus dengan Pakistan. Apalagi akan ada jalan tol langsung dari Pakistan ke Tiongkok.

Pasca Covid-19 nanti semua negara akan bangkit. Pertumbuhan ekonomi semua negara akan tinggi. Tapi angka 18,3 persen itu tetap saja fantastis. (*)

Awal Mula Tarawih Cepat di Ponpes Hidayatullah Al Muhajirin Bangkalan
Jumat, 07 Mei 2021 23:44 WIB
BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Ada fenomena yang selalu viral setiap Bulan Ramadan, yakni Salat Tarawih Cepat. Jika di Indramayu ada pesantren yang menuntaskan salat tarawih 23 rakaat dalam durasi hanya 6 menit, di Bangkalan juga ada pesantren ya...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Sabtu, 08 Mei 2021 09:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Genre baru persuratkabaran dimulai dari Singapura. Koran terkemuka di negeri singa itu mengubah diri menjadi not for profit. Perubahan drastis ini dilakukan setelah mengalami kemerosotan yang terus terjadi.Tapi apa beda...
Rabu, 28 April 2021 14:16 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Sabtu, 08 Mei 2021 11:38 WIB
Selama Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) d...