Rabu, 28 Juli 2021 19:38

Pandemi Picu Naiknya Angka Pernikahan Anak

Minggu, 20 Juni 2021 20:51 WIB
Editor: Yudi Arianto
Wartawan: M Didi Rosadi
Pandemi Picu Naiknya Angka Pernikahan Anak
Komisi E DPRD Jatim saat hearing dengan Badan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Magetan, belum lama ini.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Pernikahan anak di Jawa Timur meningkat sebanyak 300 persen selama tahun 2021. Kondisi itu disebabkan karena pandemi Covid-19 dan adanya dispensasi dari pemerintah soal usia pernikahan anak.

"Pernikahan anak atau pernikahan dini mayoritas se-Jawa Timur naik 300 persen dari tahun 2020 sampai sekarang 2021. Jadi kenaikannya sangat besar. Satu penyebabnya pada pertemuan Pengadilan Agama se-Jawa Timur dijelaskan salah satunya adalah faktor dispensasi usia. Dan kedua kemungkinan juga karena terjadi pandemi. Kan banyak di rumah tidak ada aktivitas sekolah jadi yang menyebabkan pernikahan anak tinggi," kata Anggota Komisi E DPRD Jatim Hari Putri Lestari, Minggu (20/6/2021).

Anggota Fraksi PDI Perjuangan itu mengatakan, angka pernikahan anak di masing-masing kabupaten/kota di Jatim kenaikannya hampir sama. Salah satu wilayah yang angka kenaikan pernikahan anaknya tinggi adalah di Kabupaten Magetan.

"Kalau pernikahan anak di masing masing-masing wilayah cukup tinggi, salah satunya di Magetan juga tinggi," tambah perempuan yang akrab disapa HPL itu.

BACA JUGA : 

Pro Kontra Hak Angket untuk Gubernur Khofifah, Sahat Tua: Secara Konstitusi Belum Ada Pelanggaran

Politikus Demokrat Bagikan 4 Sapi untuk Keluarga Terdampak Covid-19 di Gresik

Golkar Jatim Kurban Belasan Ekor Sapi, Warga Isoman Dapat Prioritas

Ajak Putus Rantai Penularan Covid-19 Melalui Klaster Keluarga, Ini Pengalaman Teman Agatha Retnosari

Dikatakan dia, perkawinan dini akan menyebabkan berbagai masalah. Di antaranya adalah mempengaruhi tumbuh kembang dan memicu munculnya stunting atau gizi buruk. Kondisi itu disebabkan karena orang tua waktu menikah belum mapan secara ekonomi dan psikologis.

"Ketika perkawinan anak cukup tinggi, ibunya tidak cukup secara fisik dan secara mental serta secara ekonomi, anaknya juga akan tumbuh kembangnya terpengaruh. Di samping itu, masa depan bangsa akan terganggu ketika kualitas anak sangat rendah," tandasnya.

Diharapkan dengan adanya penyusunan Raperda Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan keluarganya, maka ke depan, angka pernikahan anak di Jatim bisa ditekan. Nantinya, dalam raperda tersebut akan disusun adanya upaya-upaya untuk menekan pernikahan anak di Jawa Timur, karena sebagaian besar pernikahan anak terjadi di keluarga pekerja migran.

"Salah satunya adalah meningkatkan anggaran untuk pembangunan pemberdayaan anak dan perempuan di Jawa Timur. Sampai saat ini angkanya sangat kecil," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Hikmah Bafaqih mengaku sudah memprediksi angka kenaikan pernikahan anak atau pernikahan dini di Jawa Timur.

"Pasca dinaikkannya ambang usia menikah, dulu kan 16 perempuan dan 19 laki-laki dan sekarang 19 perempuan dan 21 laki-laki, ini pasti naik dan sudah kita prediksi pasti angka pernikahan dini menjadi naik. Tidak apa-apa ini tantangan," katanya.

Ketua Perempuan Bangsa Jawa Timur itu mengatakan, adanya pernikahan anak menimbulkan risiko yang cukup tinggi. Pasalnya, orangtua tidak siap secara mental dan psikologis untuk menerima kehadiran keluarga baru.

"Karena menikahkan anak di usia 16 tidak bijaksana karena mereka secara fisik belum siap. Kalau ada (pernikahan anak) kasusnya adalah accident atau Married by Accident (MBA), maka memang faktanya di masa pandemi dengan korban anak meningkat drastis," tambahnya.

Risiko yang bisa terjadi karena adanya pernikahan anak adalah meningkatnya angka perceraian dan angka kematian pada bayi serta ibunya. Karena itu dia meminta para orang tua membatasi asupan anak terhadap media sosial secara berlebihan, terutama konten-konten porno agar anak bisa tumbuh kembang secara maksimal dan tidak terpengaruh dengan hal hal negatif di medsos.

"Ketika anak-anak dalam pengasuhan orang tua ya, ini PR bersama kita. Ketika kekerasan seksual dengan korban anak terjadi, maka dengan sendirinya MB juga akan banyak. Kalau ambil banyak kegagalan kelahiran meningkat perceraian juga meningkat. Sebetulnya ruang ruang di mana anak-anak melakukan hubungan yang melampaui batas harus ditekan. Apa itu, misalnya akses berlebihan terhadap media sosial dan asupan konten porno. Siapa yang bisa melakukan pertama orang tua," pungkasnya. (mdr/ian)

Warga Sambisari dan Manukan Kulon Menolak Sekolah Dijadikan Tempat Isolasi Pasien Corona
Senin, 26 Juli 2021 19:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Korban Covid-19 yang terus berjatuhan mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperluas tempat isolasi pasien yang sedang terpapar virus corona. Berbagai fasilitas gedung – termasuk sekolah – direncana...
Kamis, 15 Juli 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ini ide baru. Untuk menyiasati pandemi. Menggelar resepsi pernikahan di dalam bus. Wow.Lalu bagaimana dengan penghulunya? Silakan baca tulisan wartawan terkemuka Dahlan Iskan di  Disway, HARIAN BANGSA dan B...
Selasa, 27 Juli 2021 06:32 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Mayat korban covid yang perlu dibakar – sesuai keyakinan mereka – terus bertambah. Bahkan menumpuk. Sampai perusahaan jasa pembakaran mayat kewalahan. Celakanya, hukum kapitalis justru dipraktikkan dalam pe...
Kamis, 15 Juli 2021 12:37 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*66. Qaala lahu muusaa hal attabi’uka ‘alaa an tu’allimani mimmaa ‘ullimta rusydaanMusa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajark...
Sabtu, 17 Juli 2021 10:23 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...