Tafsir Al-Kahfi 65: Nabi Khidir A.S. Sudah Wafat

Tafsir Al-Kahfi 65: Nabi Khidir A.S. Sudah Wafat Ilustrasi. foto: islami.co

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

65. fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaan

Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.

TAFSIR AKTUAL

Persoalan apakah Khidir A.S. itu nabi atau bukan, al-qur’an hanya menyatakan dia sebagai “’abd” (‘abda min ibadina), hamba Allah SWT belaka, tanpa gelar populis. Namun Tuhan memberi anugerah khusus baginya, yaitu “rahmah”, (atainah rahmah min ‘indina) dan “ilmu” (wa ‘allamnah min ladunna ‘ilma”).

Kata “rahmat” berkonotasi belas kasih Tuhan secara umum yang lazim diberikan kepada siapa saja secara non diskriminatif. Tidak pandang manusia atau bukan, mukmin atau kafir, taat atau durhaka. Tak beda dengan “ilmu”, merupakan anugerah intelektual yang biasa dimiliki oleh manusia kebanyakan. Juga tidak sama dengan anugerah untuk para Rasul, lazimnya memakai kata “al-nubuwwah, hikmah, ayat, bayyinat dsb.”.

Berdasar uraian di atas, kebanyakan ulama’ menyatakan, bahwa Khidir adalah NABI, tidak sampai derajat Rasul dan tidak pula sekadar orang shalih. Nabi itu manusia penerima wahyu yang pasif dan tidak total beaktivitas di publik, tapi berperilaku sangat shalih dan memberi manfaat. Sedangkan Rasul, sangat aktif membimbing umat.

Ilmu yang dimiliki Khidir A.S. acap kali disebut sebagai “ilmu laduni”. Ilmu anugerah tanpa belajar, pinter tanpo sinau. Ada ilmu yang didapat dengan proses belajar, seperti kebiasaan kita. Itu disebut “ilmu muktasab”. Tapi ada juga ilmu yang didapat secara pulung, anugerah. Peparing soko ngersane Gusti Allah SWT. Tidak pernah belajar, tapi tiba-tiba pandai dan menguasai. Ini disebut ilmu laduny, atau ilmu mauhibah. Memang “wis potongane” demikian.

Ilmu Laduny itu bisa dimiliki seseorang, karena memang benar-benar anugerah dari Allah SWT. Itu otorita Tuhan, seperti yang diberikan kepada hamba-Nya yang dipilih, semisal para nabi atau orang shalih lainnya. Kadang pula melalui doa orang tua atau pendahulunya.

Kok ada gus, putra kiai yang sejak kecil tidak pernah kelihatan mengaji atau belajar, bahkan ndablek, tapi tiba-tiba gedenya pinter dan menjadi kiai. Bisa jadi, mungkin itu berkah doa orang tuanya yang sangat dekat dengan Tuhan. Atau belajar malam hari saat manusia terlelap tidur. Meski sebentar, hanya sebagai syarat ikhtiar, tapi mantap dan berkah.

Simak berita selengkapnya ...