Kamis, 29 Juli 2021 06:11

Kepoin Genbest Sasar Ibu Muda dan Remaja: Gaya Hidup Tak Sehat Berpotensi Lahirkan Bayi Stunting

Sabtu, 10 Juli 2021 13:35 WIB
Editor: Redaksi
Kepoin Genbest Sasar Ibu Muda dan Remaja: Gaya Hidup Tak Sehat Berpotensi Lahirkan Bayi Stunting
Forum “Kepoin Genbest” Bondowoso yang diselenggarakan pada Jumat (9/7/2021) secara virtual.

BONDOWOSO, BANGSAONLINE.com - Saat ini Indonesia masih dihadapkan dengan berbagai tantangan mengenai permasalahan gizi, salah satunya adalah stunting yang mempengaruhi kualitas hidup generasi muda di masa mendatang. Di pundak generasi muda inilah masa depan bangsa dipertaruhkan untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan maju.

Pemerintah saat ini berupaya untuk mewujudkan tercapainya cita-cita besar Indonesia yang maju dengan menjaga kualitas generasi muda yang bebas stunting.

“Kampanye nasional untuk penurunan prevalansi stunting ini bertujuan untuk membangun kesadaran dalam pencegahan stunting khususnya bagi generasi muda,” ujar Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Wiryanta dalam forum “Kepoin Genbest” Bondowoso yang diselenggarakan pada Jumat (9/7/2021) secara virtual.

BACA JUGA : 

Pengasuh Ponpes Darul Ihsan Gresik Beri 4 Pesan untuk Hindari Covid-19

Seru! Garam Krosok Rontokkan Virus Corona Dikritik Dokter THT Unair, Ini Jawaban drh Indro Cahyono

Garam Krosok, Cara Mudah dan Murah Rontokkan Corona, Tapi Dimusuhi Pemilik Proyek Covid

Rasional, Madu, Air Zam-Zam dan Kurma Tangkal Virus Corona, Ini Paparan Kiai Asep

Angka prevalensi stunting di Indonesia berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2019 sebesar 27,67 persen, masih tinggi dibandingkan dengan ambang batas yang ditetapkan oleh WHO, yakni 20 persen. Presiden Joko Widodo telah menetapkan target di tahun 2024 agar angka prevalensi stunting di Indonesia turun menjadi 14 persen.

“Tujuan penurunan stunting ini adalah untuk menyongsong bonus demografi yang diperkirakan terjadi di tahun 2030 mendatang. Untuk itulah dibutuhkan SDM yang unggul, berkompentensi, dapat bersaing secara global dan tentunyaberkepribadian Indonesia,” ujar Wiryanta.

Oleh karena itu, menurut Wiryanta, untuk mewujudkan “Indonesia Emas” Kemkominfo menyelenggarakan “Kepoin Genbest” di berbagai daerah prioritas stunting, salah satunya di Bondowoso, Jawa Timur, dengan menyasar para remaja dan ibu muda agar dapat memahami dan peduli terhadap isu stunting sejak dini.

“Target penurunan stunting menjadi 14% di tahun 2024 optimis akan kita capai jika semua elemen masyarakat dapat bersama bergotong royong untuk sadar bahwasanya stunting ini adalah ancaman kita semua dan harus kita cegah bersama,” imbuh Wiryanta.

Tim KIE Stunting BKKBN, Dr. dr. M. Yani. M. Kes. PKK yang hadir sebagai narasumber di “Kepoin Genbest” Bondowoso turut mengimbau agar generasi muda sebagai calon orang tua agar mulai memperhatikan gaya hidup sejak dini. Gaya hidup yang tidak sehat menurutnya akan mempengaruhi kondisi kehamilan sehingga berpotensi melahirkan bayi yang stunting.

“Stunting tidak hanya dipicu oleh pemenuhan nutrisi saat bayi dalam kandungan, melainkan kondisi kesehatan kedua orang tua yang juga turut berperan. Untuk itu sedari dini saat remaja haruslah dipersiapkan dengan cara terpenuhinya segala aspek penunjang kesehatan sebelum berkeluarga,“ ujar dr. Yani.

Oleh karena itu, Yani mengimbau untuk menghindari pernikahan dini, dengan ideal usia pernikahan minimal bagi wanita 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Di usia tersebut pasangan akan lebih matang secara organ fisik reproduksi, emosional, psikologis, dan ekonomi.

Selain itu, narasumber ahli, dr. Anton Tanjung mengingatkan para remaja sebagai penerus bangsa harus mulai memperhatikan kebutuhan asupan nutrisi, karena pada usia remaja perkembangan terjadi lebih optimal.

“Di usia remaja merupakan masa di mana perkembangan fisik dan tubuh kita cenderung berubah dengan sangat cepat, secara tidak langsung hal tersebut menuntut kita untuk mencukupi asupan nutrisi dengan baik,” ujar dr. Anton.

Edukasi pencegahan stunting harus dipahami dengan baik oleh remaja sebagai generasi muda, utamanya pemahaman mengenai pemenuhan nutrisi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Anton menambahkan pentingnya pemenuhan nutrisi sedari remaja dan pada saat masa mengandung.

“1.000 HPK memegang peranan penting dalam pencegahan stunting karena di fase tersebut 70-80% pertumbuhan otak seseorang sedang berlangsung, untuk itulah pemenuhan nutrisi harus disiapkan dengan baik oleh para calon orangtua sedari awal,” tutup dr. Anton.

Warga Sambisari dan Manukan Kulon Menolak Sekolah Dijadikan Tempat Isolasi Pasien Corona
Senin, 26 Juli 2021 19:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Korban Covid-19 yang terus berjatuhan mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperluas tempat isolasi pasien yang sedang terpapar virus corona. Berbagai fasilitas gedung – termasuk sekolah – direncana...
Kamis, 15 Juli 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ini ide baru. Untuk menyiasati pandemi. Menggelar resepsi pernikahan di dalam bus. Wow.Lalu bagaimana dengan penghulunya? Silakan baca tulisan wartawan terkemuka Dahlan Iskan di  Disway, HARIAN BANGSA dan B...
Selasa, 27 Juli 2021 06:32 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Mayat korban covid yang perlu dibakar – sesuai keyakinan mereka – terus bertambah. Bahkan menumpuk. Sampai perusahaan jasa pembakaran mayat kewalahan. Celakanya, hukum kapitalis justru dipraktikkan dalam pe...
Kamis, 15 Juli 2021 12:37 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*66. Qaala lahu muusaa hal attabi’uka ‘alaa an tu’allimani mimmaa ‘ullimta rusydaanMusa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajark...
Sabtu, 17 Juli 2021 10:23 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...