Pencetus Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Pencetus Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW Source: Pixabay

Oleh: Ahmad Shofiyuddin*

Perkenalkan dulu sebelumnya, karena tak kenal maka tak sayang. Nama saya Ahmad Shofiyuddin (Panggilan: Yudi). Saya seorang dosen dengan bidang keahlian Pendidikan Agama Islam. Sekarang aktif sebagai pengajar, Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah UNU Sunan Giri Bojonegoro Jawa Timur. Selain aktif mengajar, saya aktif mengisi seminar pendidikan dan parenting di beberapa daerah di Jawa Timur seperti Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, dsb.

Baiklah, mungkin saya tidak perlu panjang lebar. Saya akan langsung membahas apa yang ingin saya bagikan ke pembaca BANGSAONLINE.com.

Bulan Rabi’ul Awal atau yang biasa disebut bulan maulid adalah bulan dilahirkanya utusan Allah SWT, nabi akhir zaman, Muhammad bin Abdullah bin Abd Mutthalib bin Hasyim Al-Quraisy. Nabi Muhammad SAW lahir dari kandungan Ibunda Sayyidah Siti Aminah di Kota Makkah Al-Mukarromah pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal yang bertepatan dengan tahun 571 M. Berkaitan dengan hari lahirnya Nabi SAW, penulis akan menguraikan secara singkat tentang sejarah awal mula perayaan maulid Nabi.

Pertama kali, agar tidak salah makna, kita harus memahami pengertian Maulud dan Maulid. Kata atau lafadz “Maulud” adalah “Bayi”, berarti yang kita hormati adalah Nabi Muhammad SAW. Adapun kata “Maulid” adalah “Hari lahir”, berarti yang kita hormati adalah hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Karena nabi sendiri memperingati hari lahirnya dengan berpuasa sunnah di hari Senin, Rasulullah gemar berpuasa pada hari dilahirkanya beliau di dunia. Sebagaimana hadis Nabi yang artinya:

Telah diceritakan kepada kami, Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepadaku Tsaur bin Yazid dari Khalid bin Madan dari Rabiah bin Al-Ghaz bahwasanya dia bertanya kepada Aisyah tentang puasanya Rasulullah SAW, maka Aisyah pun menjawab, “Beliau selalu berpuasa di hari senin dan kamis”.

Sejarah Maulid Nabi SAW

Secara historis, ada tiga pendapat mengenai sejarah awal mulanya peringatan Nabi Muhammad SAW. Pendapat Pertama, perayaan maulid nabi diselenggarakan oleh Abu Tamim Al-Muis Al-Qahir Lidinilah mada masa Khalifah Fatimiyah di Mesir pada tahun 361 H - 567 H, adapun gubernurnya bernama Jauhar Al-Sauqli.

Pendapat kedua, pencetus maulid nabi ialah Muzhaffar Abu Sa’id Al-Kukburi di Irbil Irak 549 H - 630 H.

Adapun pendapat ketiga, pencetus pertama maulid nabi ialah panglima besar Islam yang bernama Salahuddin Al-Ayyubi 567 H – 640 H.

Namun dari tiga pendapat tersebut, mayoritas ulama’ berpendapat bahwa pencetus maulid nabi ialah Muzhaffar Abu Sa’id Al-Kukburi di Irbil Irak 549 H - 630 H, seorang sunni sekaligus seorang raja solih, ahli sedekah, dan pemberani. Jadi beliaulah yang pertama kali menyelenggaraan perayaan maulid.

Sekitar abad ke 4 - 7 hijriyah merupakan masa-masa krisis, masa di mana orang mulai lupa dengan Nabi Muhammad, lupa dengan perjuangan Nabi dalam syi’ar Islam. Orang-orang banyak yang menjauh dari ajaran Islam, banyak yang membuat patung-patung untuk mengingat para leluhur, mengagung-agungkan leluhur, bahkan dekat dengan syirik.

Melihat kondisi demikian, Raja Muzaffar mengumpulkan para ulama. Mulai ahli tafsir, ahli hadis, ulama’ bidang fiqh, ahli tasawwuf. Semua para alim dikumpulkan untuk membahas keutamaan mencintai nabi, bangga dengan agamanya (Islam), menjelaskan kepada ummat, kaum laki-laki, perempuan, pemuda, sampai anak-anak tentang sosok Rasulullah SAW. Kemudian, dalam perkembangan zaman, banyak ulama yang memuji nabi dengan membuat diwan atau bait-bait syi’ir, barzanji, dhiba’, dan lain sebagainya.

Tujuan memperingati Maulid Nabi SAW

Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Ahzab: 21, yang artinya:

Simak berita selengkapnya ...