Tundukkan Parlemen, Biden Kalah dengan Presiden RI, Trump Kalah dengan Lirikan Mata Luhut

Tundukkan Parlemen, Biden Kalah dengan Presiden RI, Trump Kalah dengan Lirikan Mata Luhut Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Presiden Amerika Serikat, mulai dari Barack Obama hingga Donald Trump, selalu gagal tundukkan parlemen. Baru Joe Biden yang bisa meluluhkan. Tapi Biden masih kalah dengan Presiden RI. Bahkan kalah dengan lirikan mata . O ya?

Simak tulisan wartawan terkemuka, Dahlan Iskan, di Disway, HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com, hari ini, Kamis 18 Oktober 2021. Selamat membaca:

ADA UU baru di Amerika Serikat. Namanya: .

Itu untuk lebih gampang menyebutkannya.

Nama aslinya panjang. Anda sudah tahu. Itulah UU yang baru ditandatangani Presiden Joe Biden tiga hari lalu –setelah disetujui Kongres lebih seminggu sebelumnya.

Lahirnya undang-undang baru itu sebenarnya prestasi besar bagi Biden. Begitu ngotot ia mengusulkannya. Begitu ramai kontroversi pembahasannya. Biden harus bekerja keras meyakinkan parlemen. Terutama yang dari Partai Republik. Apalagi sebagian anggota parlemen dari Demokrat sendiri ada yang menentang: 6 orang.

Biden tidak mampu berharap bisa seperti Presiden Indonesia. Yang bisa meloloskan Omnibus Law Cipta Kerja begitu mudahnya.

Pun anggota Kongres dari partainya sendiri tidak sepenuhnya mendukung. Sebagian anggota Kongres dari Demokrat justru memilih ''No!''. Untung sebagian anggota Kongres dari Partai Republik justru memilih ''Yes''. Jumlahnya 13 orang. Mereka itulah yang membuat Donald Trump sewot: mengapa anggota parlemen dari Republik mendukung rencana besar presiden dari Partai Demokrat. Mengapa mereka dulu justru menentang ketika Trump sendiri yang mengusulkannya.

Maka mereka itu, oleh Trump diberi gelar RINO –Republican In Name Only. Republik KTP. Menurut Trump mereka harus dimusuhi dan disingkirkan.

Biden, Mirza tahu itu, memang dikenal sebagai jago lobi. Sejak lama. Ia memang politikus sejati seumur hidupnya.

Presiden Obama gagal meyakinkan Kongres. Presiden Trump senasib dengan Obama. Gertak Trump ternyata kalah dengan lirikan mata Luhut Binsar Panjahitan.

Biden bikin sejarah. Lahirlah itu. Itulah UU paket infrastruktur senilai Rp 16.000.000.000.000.000. USD 1,2 triliun. Sebagian besar untuk memperbaiki jembatan, jalan, penyediaan air, dan pembangunan charger mobil listrik. Termasuk membangun sedikit jembatan dan jalan baru.

Lebih setengah tahun Kongres memperdebatkan usulan Biden itu. Akhirnya lolos meski dengan suara ''Yes'' yang tidak banyak beda dengan suara ''No''. Ini dia: 228 Yes, 206 No.

Itulah pengesahan anggaran proyek terbesar dalam Sejarah Amerika 50 tahun terakhir. Biden yang membuat sejarah itu. Mestinya nama Biden bisa berkibar.

Nyatanya: tidak.

Rating popularitasnya, yang seperti roket jatuh, tidak terangkat. Tetap kalah dua digit dari Trump.

Maka Biden pun membuat podium. Di tengah jembatan rusak. Senin lalu. Ia berpidato di podium di tengah jembatan jelek itu.

Itulah salah satu jembatan yang akan diperbaiki lewat USD 1,2 triliun.

Jembatan itu memang sudah terlihat retak. Klasifikasinya: merah. Artinya: bahaya untuk dilewati. Lampu merah itu sudah dinyalakan sejak tahun 2014 lalu. Tidak kunjung ada anggaran untuk memperbaikinya.

Umur jembatan itu memang sudah gaek: dibangun tahun 1930-an. Biden menang telak di New Hampshire di Pilpres tahun 2020. Jembatan merah itu ada di pedalaman negara bagian itu.

Itu, sebenarnya, bukan jembatan yang penting-penting amat. Bukan di jalan interstate –yang mirip jalan tol gratis di negara kita. Bukan pula di jalan highway –mirip jalan negara di Indonesia. Itu 'hanya' jembatan yang menghubungkan jalan sekelas jalan kabupaten di negara kita.

Sudah bertahun-tahun soal jalan rusak dan jembatan berbahaya jadi bahan omongan di meja makan di keluarga-keluarga di pedalaman Amerika. Terutama di musim salju. Tumpukan salju membuat mereka lebih takut melewati jembatan seperti itu.

Orang kota besar memang tidak merasakannya. Jembatan interstate dan highway baik-baik saja. Umumnya juga masih belum tua.

Banyaknya jembatan dan rusak itulah yang dulu, oleh Trump sering disebut, infrastruktur di Amerika itu sudah seperti di negara ketiga. Sedang infrastruktur di Tiongkok begitu modernnya, sudah seperti di negara maju.

Di sini Amerika merasa perlu mengejar Tiongkok. Maka UU baru itu, sejak pembahasannya, lebih sering disebut sebagai .

Lucu juga, Amerika mengejar Tiongkok. Maka seminggu ke depan akan banyak pidato di atas jembatan. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Artikel Berjudul Krisis Chip

Don KongKing

Produsen semiconductor terbesar (dalam artian punya pabrik manufaktur) masih negara asia, TSMC di taiwan, dan Samsung di Korea Selatan. Di Amerika sendiri yang punya pabrik besar cuma Intel, sedangkan Jepang semiconductor-nya udh memble, padahal industri semiconductor Jepang tahun 70-an adalah yang terbesar, bisa jadi lokomotif penarik gerbong ekonomi Jepang sampai jadi maju seperti sekarang. Dan untuk TSMC sekarang sedang bikin fab di Arizona, nilainya "tarik nafas" *Abah mode on* 12 Billion USD. Sedangkan Samsung juga sudah bersiap buka fab di Amerika. Migrasi TSMC ke Amerika selain karena konsumen terbesar TSMC adalah perusahaan Amerika, Apple, AMD, dan Qualcomm adalah contohnya. Selain itu juga karena ketegangan Taiwan dan RRC yang terus meningkat, TSMC khawatir jika Taiwan diinvasi maka pabrik mereka di Taiwan akan terkena dampaknya. Sedangkan keinginan Samsung buka fab di Amerika selain untuk lebih mendekatkan dengan konsumen mereka, juga khawatir fab mereka di korea akan dinasiaonalisasi oleh pemerintah korea selatan. Karena kebutuhan semiconductor yang tinggi didalam negeri dan adanya kelangkaan chip, bukan tidak mungkin pemerintah Korea akan mengeluarkan kebijakan mendahulukan pasar dalam negeri, hal itu akan merugikan Samsung karena konsumen mereka rata-rata adalah perusahaan luar korea.

Disway 18081423

Mata rantainya banyak, salah satunya yang bisa bikin efisiensi pemakaian bahan bakar dan optimalisasi mesin ya dari chip. 1. Bayangkan mobil penumpang "rajanya diesel" kapasitas 2.5liter tenaganya di kisaran 80HP di banding diesel modern 2.4liter tenaganya di 150HP. 2. Pencet pencetan di speedometer yang bisa ngukur suhu, current trip, sisa bahan bakar, dll itu ya berkat chip. 3. Tekhnologi keselamatan, Abs, ebd, airbag, ya karena ada chip. 4. Sensor parkir, climate control, lampu otomatis, dll Intinya mobil modern skrg bergantung pada ecu. Yang mana butuh Chip. Bahkan kita bisa nikmati HP terjangkau tapi spek tinggi ya karena Chip..

Mirza Mirwan

Simak berita selengkapnya ...