Gus Barra menerima penghargaan dari Forkom Jurnalis Nahdliyin disaksikan KH Asep Saifuddin Chalim dan Suwandy Firdaus, Anggota DPRD Jatim. foto: istimewa
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN) menggelar silaturahim dengan Keluarga Besar Ponpes Amanatul Ummah di Pacet, Mojokerto, Sabtu (20/11) malam.
Dalam acara tersebut, hadir secara langsung Pendiri Ponpes AManatul Ummah KH. Asep Saifuddin Chalim beserta putranya, Muhammad Al-Barra dan Anggota DPRD Jatim, Suwandy Firdaus.
BACA JUGA:
- Spektakuler! PP Amanatul Ummah Wisuda 565 Penghafal Quran, 128 Santri Hafal 30 Juz
- Apresiasi Kerja Keras Menhaj, Kiai Asep Minta Jemaah Tak Paksakan Diri Ibadah di Masjid Haram-Nabawi
- Ingin Doa Kita Terkabul dan Banyak Rezeki? Berdoalah pada Jumat, Ini Teks Doanya
- Luar Biasa! 318 Santri Amantul Ummah Lolos UTBK-SNBT, Banyak yang Hafal Quran
Selain silaturahim, FJN juga sekaligus menyerahkan penghargaan kepada Gus Barra. Cucu KH. Abdul Chalim yang merupakan salah satu pendiri NU ini dinobatkan sebagai Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif Jatim 2021.
"Terus terang kaget saat membaca berita, saya mendapat penghargaan ini. Di dalam berita itu ditulis untuk menjaga obyektivitas, tak ada komunikasi antara FJN dengan penerima penghargaan. Dan memang itu yang terjadi, saya baru sekarang bertemu dengan teman-teman Jurnalis Nahdliyin," ujar Gus Barra.
Wakil Bupati (Wabup) Mojokerto lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir itu mengungkapkan adanya penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi dirinya untuk semakin mengembangkan diri. Termasuk membuat semakin termotivasi berkhidmat di Nahdlatul Ulama
"Tentu penghargaan ini menjadi motivasi bagi saya untuk ke depan. Termasuk tentunya berkhidmat untuk NU, pastinya. Karena bagaimana pun, saya adalah cucu Kiai Abdul Chalim, pendiri NU," kata pria yang baru berulang tahun ke-35 ini.
Gus Barra kemudian sekilas bercerita bahwa dirinya saat ini tengah menempuh pendidikan S3. Dalam disertasinya, dia mengangkat sosok kakeknya, KH Abdul Chalim yang masih jarang diketahui sebagai salah satu pendiri NU.
"Sebenarnya dalam sejarah pun Mbah saya jarang ditulis. Tapi saya dalam disertasi saya menulis sejarah tentang NU yang ditulis oleh Mbah saya," terang Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Indonesia (IAAI) Jawa Timur ini.
Gus Barra menjelaskan, sang kakek ketika itu berjuang bersama KH Wahab Chasbullah dalam mendirikan NU. Dan meninggalkan sebuah buku catatan yang ditulis dalam aksara Arab Pegon.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





