Hj. Nikmah Jamilah Halim dan para keturunan Mbah Ufi Biahdillah lainnya.
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Haul KH. Ufi Biahdillah digelar di Dusun Blera, Desa Sumber Dawesari, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Ahad (16/01). Acara ini dihadiri Hj. Nikmah Jamilah Halim, Ketua Yayasan Nusa Bangsa (Yanuba) Pasuruan.
Dalam haul itu, Jamilah yang juga cicit KH. Ufi Biahdillah, menceritakan sekelumit kisah kakek buyutnya tersebut.
BACA JUGA:
- Haul KH Abdurrahman Legi: Jejak Pendiri NU Pasuruan dan Anggota Mahkamah Islam Tinggi
- Tiap Tahun Makin Membeludak, Haul Kiai Mustofa Lekok Pasuruan Dihadiri Puluhan Ribu Jemaah
- Ademkan Situasi di Pasuruan Jelang Pilkada, Kiai Djazuli Minta Jangan Ada Perpecahan
- Kiai Wilayah Pasuruan Barat Deklarasi Dukungan untuk Pasangan MUDAH
Menurutnya, almarhum KH Ufi Biahdillah adalah orang yang sangat menentang Pemerintah Belanda. Karena itu, Mbah Ufi, begitu Jamilah memanggil KH Ufi Biahdillah, sangat dicari oleh Tentara Belanda.
“Beliau merupakan tokoh yang disegani oleh masyarakat di wilayah Pasuruan Timur. Selain itu, beliau juga orang yang istiqomah mensiarkan agama Islam lewat majelis ta'limnya seperti, Manaqib Syekh Abdul Qodir, thoriqoh, serta dzikir lainya,” ujarnya.
Kegiatan-kegiatan yang digagas Kiai Ufi itulah yang dicurigai oleh Pemerintah Belanda sebagai gerakan pemberontakan. Apalagi tiap kegiatan, dihadiri banyak orang.
“Makanya Mbah Ufi itu jarang pulang. Kalau situasinya aman, baru pulang. Kalau gak gitu, ditangkap oleh Belanda, karena stasiun pusat transportasi penjajah itu kurang lebih 500 meteran dari sini,” terang Jamilah.
Cerita itu dibenarkan oleh putra almarhum, Kiai Mukhlas. Menurut Kiai Mukhlas, ayahnya memang jarang tinggal di rumah karena selalu diintai oleh penjajah belanda. Apalagi, Kiai Ufi adalah Komandan Hisbulloh Rayon Kacamatan Grati.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




