Komisaris Puspa Agro Erlangga Satriagung usai MoU dengan Coordinator Research Program FORWARD dari EAWAG, Bart Verstappen. Foto : nisa/BANGSAONLINE
Sementara, Bart Verstappen menjelaskan, pengolahan sampah seperti yang akan diterapkan di Puspa Agro ini sudah pernah dilakukan negara Afrika Selatan, Kanada, Australi. “Kami memilih Puspa Agro karena lahannya sudah ada. Kami mentransfer ilmu kami untuk pengolahan sampah ini,” ujar Bert.
Berdasarkan riset, dari 14 kg sampah bisa menghasilkan 2 kg belatung tiap harinya.
Kenapa memilih pasar Puspa Agro? Dikatakan Bert, Puspa Agro merupakan pasar agro yang sudah tentu banyak sampah organiknya. Jika sekarang masih belum sampah yang dihasilkan, maka suatu saat pasti sampahnya semakin banyak dan akan menimbulkan masalah sendiri. “Makanya dari sekarang harus diantisipasi,” tandasnya.
Pemerintah Swiss melalui EAWAG telah menyediakan anggaran 1 juta Euro untuk 4 proyeknya di Indonesia, termasuk untuk proyek pengolahan sampah di Puspa Agro.
"Kami akan berusaha menjalin kerjasama baik dengan pihak Puspa Agro di Jatim karena pasar induk ini cukup besar dan modern. Sementara untuk tempat penampungan sampah pihak Puspa Agro telah menyediakan lahan. Dan kami, akan mengelola untuk dijadikan bahan yang bermanfaat oleh masyarakat,” kata Bart.
“Jika nantinya sudah bisa dikelola menjadi pakan ternak tentunya akan bisa membantu peternak agar biaya produksi bisa diturunkan. Selama ini pakan ternak masih impor. Kalau nantinya bahan baku bisa diproduksi sendiri tentu akan lebih murah dan peternak bisa lebih sejahtera," pungkasnya. (nis)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




