TIDAK MAKSIMAL. Salah satu petani sedang menunjukan waduk Blibis yang hanya mampu menampung setengah dari kapsitasnya. Foto: Eky Nurhadi/BANGSAONLINE
Wakiran (52), petani di Desa Sonorejo mengatakan, daya tampung Waduk Sonorejo terus menyusut karena mengalami pendangkalan parah. Seharusnya, kata dia, Waduk Sonorejo dikeduk sehingga bisa berfungsi seperti sedia kala.
“Cadangan air yang bisa disimpan di Waduk Sonorejo selama musim hujan sedikit sekali, kurang dari separuh dari daya tampung waduk,” ujarnya.
Ia menuturkan, kondisi itu diperparah dengan bangunan waduk yang mengalami kerusakan. Bangunan plengsengan di sisi timur waduk jebol dan rusak sepanjang 15 meter. Begitu pula bangunan pengatur air di sisi utara rusak.
“Tidak sampai musim kemarau, air di Waduk Sonorejo ini sudah habis,” ujarnya.
Kondisi serupa juga terjadi di Waduk Ngradin di Desa Ngradin, Waduk Juwet di Desa Ngradin dan Waduk Mulus di Desa Ngasinan, semuanya di wilayah Kecamatan Padangan. Ketiga waduk itu juga mengalami pendangkalan parah sehingga tidak bisa menampung cadangan air secara optimal selama musim hujan. Persediaan air hanya cukup untuk keperluan selama Mei hingga Juli nanti.
Sementara itu para petani di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo saat ini juga sedang menanam padi kedua. Tanaman padi di sawah daerah bantaran sungai rata-rata berumur seminggu hingga sebulan. Tanaman padi itu diairi dari Sungai Bengawan Solo. (nur)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




