Dr Reham Ajak Lihat Cara Kerja Al-Azhar Observer, Follow Up Kerja Sama Khofifah Tangani Radikalisme

Dr Reham Ajak Lihat Cara Kerja Al-Azhar Observer, Follow Up Kerja Sama Khofifah Tangani Radikalisme Dr Reham Abdullah Salamah Nasr, Direktur Utama Al-Azhar Observatory for Combating Estremism saat menjelaskan tentang cara kerja timnya kepada Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, dan rombongan di kantornya, Kairo Mesir (1/1/2023). Foto: M Mas'ud Adnan/BANGSAONLINE

Dr Reham Abdullah Salamah Nasr, Direktur Utama Al-Azhar Observatory for Combating Estremism saat menjelaskan tentang cara kerja timnya kepada Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, dan rombongan di kantornya, Kairo Mesir (1/1/2023). Tampak Prof M Mas'ud Said (tengah) dan Dr KH Mauhibur Rohman mendengarkan penjelasan Dr Reham. Foto: M Mas'ud Adnan/BANGSAONLINE

Tak lama kemudian Dr Reham mengajak dan rombongan naik ke lantai dua. Di situlah para pasukan Al-Azhar Orservatory for Combating Exetremism bekerja.

Pantauan BANGSAONLINE, mereka bekerja di ruangan yang disekat-sekat seperti kantor surat kabar. Semua tim atau karyawan menghadap ke monitor komputer yang tentu saja semua terhubung dengan berbagai jaringan dunia. Mereka memplototi semua informasi yang terdiri dari berbagai bahasa.

Al Azhar Observer tak hanya menangkal , ekstremisme dan terorisme tapi juga melakukan deradikalisasi dengan melahirkan narasi-narasi keagamaan inklusif.

Menurut Gus Muhib, Al Azhar Observer adalah lembaga penanganan ekstremisme yang sangat strategis di Mesir. “Karena lembaga ini berada di bawah langsung Syaikhul Azhar atau Grand Syaikh,” tutur Gus Muhib kepada BANGSAONLINE.com.

Kini Grand Syaikh Al-Azhar Mesir adalah Prof Dr Ahmed at-Tayyeb. Grand Syaikh adalah pimpinan puncak yang punya otoritas tertinggi di Mesir, terutama di universitas Al-Azhar.

juga berpendapat bahwa rencana kerjasama penanganan dan ekstremisme Provinsi Jatim dan Mesir ini sangat strategis.

“Karena di Indonesia sekarang belum ada ulama atau kiai yang fatwanya didengar semua masyarakat. Fatwa ulama NU tak didengar warga Muhammadiyah. Fatwa ulama Muhammadiyah tak didengar warga NU,” kata yang dikenal luas sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mjokerto Jawa Timur.

Karena itu, tegas , jika ada fatwa-fatwa dari ulama alim tingkat dunia, terutama dari Al Azhar Mesir, niscaya sangat berpengaruh pada masyarakat Indonesia.

yang juga ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu mengatakan bahwa penanganan harus cepat dan tuntas. “Karena mereka masih banyak di daerah,” tutur . Ia menyebut sebuah daerah yang merupakan basis kelompok sejak era perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut , mereka hingga kini masih eksis. Bahkan kepala daerahnya juga cenderung radikal. “Makanya Jawa Timur di bawah kepemimpinan Ibu Gubernur harus jadi pilot project untuk Indonesia dalam penanganan , ektremisme dan terorisme,” kata putra KH Abdul Chalim, salah seorang kiai pendiri NU itu kepada BANGSAONLINE. 

Tapi benarkah pers Mesir juga meliput kunjungan dan rombongan? (bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO