Gubernur Khofifah Dukung Kehadiran Satgas Gerakan Keluarga Maslahat NU

Gubernur Khofifah Dukung Kehadiran Satgas Gerakan Keluarga Maslahat NU Gubernur Khofifah saat memberi pemaparan.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Gubernur mendukung penuh hadirnya Satuan Tugas Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKM). Menurut dia, satgas ini akan menjadi bagian penting dari upaya membangun ketahanan keluarga yang akhirnya menjadi penguat ketahanan nasional.

Ia mengungkapkan hal tersebut ketika menghadiri giat ‘Pelibatan Masyarakat Program Ketahanan Keluarga Wilayah Jatim’ kerja sama dan PB di Hotel Fairfield Surabaya, Rabu (7/6/2023).

“Permasalahan keluarga ini tidak sesederhana yang dibayangkan. Jika ketahanan keluarga terjaga maka akan menjadi basis ketahanan nasional. Dengan hadirnya Satgas GKM yang dibentuk hingga tingkat ranting (desa/kelurahan) akan mampu menjadi bagian yang dapat mengembalikan harkat dan martabat kemanusiaan, dari mulai seorang anak dilahirkan sampai dengan saat kematian,” paparnya.

mengatakan, saat ini definisi keluarga menurut PBB dan nasional masih terdiri dari laki-laki dan perempuan dalam satu ikatan perkawinan yang sah. Sehingga ini bagian dari membangun peradaban agar seorang anak menjadi jelas keturunannya, nasabnya dan seterusnya.

“Tetapi bahwa hari ini dan yang akan datang persoalan Family resilience atau ketahanan keluarga bukan persoalan sederhana. Baik terkait definisi keluarga dalam undang-undang maupun dalam sebuah ikatan perkawinan yang sah,” ujarnya.

“Desain besar membangun ketahanan keluarga dan membangun keluarga maslahah mungkin kita perlu ambil posisi yang paling mendasar, yakni definisi keluarga menurut PB. Untuk itu, ada baiknya kita cocokkan dengan data BPS supaya secara scientific semua terukur,” imbuhnya.

Ia menyebut, membangun kerjasama dengan pemerintah daerah menjadi sangat penting. Hal ini karena family resilience atau ketahanan keluarga ini kemudian menjadi ikhtiar bersama-sama dari seluruh stakeholder.

Simak berita selengkapnya ...

Lihat juga video 'Gila NU dan Orang NU Gila, Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan (16)':