Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'i
Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr KH A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Mustaâin menafsiri Surat Al-Abiya: 31-33. Selamat mengikuti.
âPOLYNDROMâ DALAM AL-QURâAN
Demi meyakinkan umat manusia agar menyadari bahwa Allah SWT adalah yang menciptakan planet-planet di atas dan ternyata tidak semua dari mereka menyadari. Mereka kebanyakan ingkar dan berpaling. âwa hum âan ayatiha muâridlunâ.
Lalu, pada ayat 33 ini, Tuhan menambah penjelesan-Nya dan beralih ke planet lain. Disebutkan ada malam dan ada siang. Ada matahari dan ada rembulan. Masing-masing berenang-renangan dalam falak, garis edarnya. âkull fi falak yasbahunâ.
âYasbahunâ adalah fiâil mudlariâ dalam bentuk jamak yang ditandai dengan âwawâ dan ânunâ sebagai tanda Iârab. Bentuk ini lazimnya dipakai untuk membahasakan makhluk berakal, manusia dan jin. Tapi dipakai untk membahasakan benda mati, planet di ruang angkasa.
Lagian, kata sabaha-yasbahu itu artinya berenang. Memangnya rembulan dan matahari bisa berenang. Atau di sono ada kolam raksasa tempat semua itu berenang..?. terus.. renangnya kayak apa..?. Lalu apa maksud semua ini.
Pertama, ayat ini hadir karena planet dan materi yang diunggah lebih dekat dengan kehidupan manusia dibanding dengan planet sebelumnya. Kita pasti dan selalu dalam waktu dua ini, yakni siang dan malam. Matahai dan rembulan adalah planet yang paling bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Musim dan waktu ditentukan oleh planet ini.
âYasbahunâ, berenang. Seolah menggambarkan bahwa planet-planet tersebut begitu bahagianya menjadi makhluq Tuhan. Mereka memepersembahkan baktinya tanpa pamrih, tetap dan tak pernah selisih, sekedar kepatuhan belaka.
Hal ini agar ditiru oleh umat manusia yang berakal, sementara mereka tak berakal.
âKUL(L) FI FALAKâ. Dalan bahasa arab, secara ejaan tertulis hufur âKaf, Lam, Faâ, Yaâ, Faâ, Lam dan Kafâ. Bacaannya âkull fi falakâ. Kalimat ini, dibaca dari depan seperti biasa dan dari belakang mundur akan terbaca sama. Tulis dulu dalam bahasa arab aslinya, lalu anda baca balik. Selamat mebuktikan.
Model begini ini, dalam bahasa Indonesia disebut âpolyndromâ, berasal dari bahasa Yunani: Polyn dan Dromos. Dan dalam bahasa arab disebut âal-jumal al-maqlubahâ. Contoh ekstrem dalam bahasa Indonesia adalah: âKASUR NABABAN RUSAKâ. Silakan baca, bolak balik sama. Lebih dari âkull fi falakâ pada ayat kaji ini ada di surah âal-Muddassirâ, nanti, in syaâ Allah. (bersambung)










