
SURABAYA, BANGNSAONLINE.com – Suara Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Prof Dr KH Imam Ghazali Said, MA, tersendat. Matanya berkaca-kaca. Bahkan ia kemudian menangis ketika membahas fenomena krisis etika dan akhlak. Menurut dia, bangsa akan hancur jika tanpa akhlak.
“Sudah banyak sekali buktinya. Kenapa Mesir itu dulu hancur, karena tak berakhlak,” tegas Prof Kiai Imam Ghazali Said dalam Podcast BANGSAONLINE yang dipandu M Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.
Padahal, menurut alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu, Mesir sempat punya peradaban tinggi dan besar. Ia mencontohkan salah satu bentuk bukti peradaban di Mesir. Yaitu piramida yang hingga sekarang banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai manca negara.
Menurut Kiai Imam Ghazali, piramida itu memang wujud peradaban fisik luar biasa. Hanya saja dibangun dengan cara tak berakhlak. Bahkan tidak manusiawi.
“Tapi mengorbankan manusia. Setiap orang disuruh menyumbang 10 telur untuk (material membangun piramida). Sampai orang kekurangan gizi,” tegas pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya.
Ia sangat menyayangkan proyek-proyek besar yang dirancang pemerintah tapi tak mengindahkan akhlak lingkungan. Ia mencontohkan proyek food estate atau lumbung pangan. Yang sekarang sedang menjadi perbincangan publik karena disebut-sebut merugikan petani lokal dan merusak lingkungan hidup.
“Ini sudah menyangkut akhlak. Bukan hanya etika,” tegas kiai yang mengambil S2 di universitas di Sudan ini.
“Etika itu berada di atas hukum, etika itu berada di atas ilmu,” tambahnya.
Karena itu Prof Imam Ghazali Said yang juga Wakil Syuriah PCNU Surabaya sangat prihatin dengan gimmick (gimik) Gibran Rakabuming Raka, calon wakil presiden 02 dalam acara Debat Cawapres 2024. Apalagi, kata dia, Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar adalah cawapres lebih tua dan jelas lebih berpengalaman. Apalagi secara keilmuan.
Tapi sikap Gibran malah merendahkan mereka.
“Bagaimana nasib bangsa ini kalau dipimpin oleh orang yang tak beretika,” kata Prof Kiai Imam Ghazali Said.