Gus Mus saat memberi pernyataan bahwa pemilihan Rais Am sesuai AD/ART.
“Doakan mudah-mudahan saya hanya sekian saja untuk jadi Rais Am,” katanya lagi. Gus Mus terisak menangis. Saat Gus Mus menangis reaksi muktamirin beragam. Ada yang menangis karena haru tapi lebih banyak yang biasa-biasa karena dianggap akting. (Baca juga: KH Hasyim Muzadi Calon Tunggal Rais Am, Gus Mus Isyaratkan Mundur)
Meski demikian ketegangan akibat pro-kontra soal AHWA sempat mereda setelah Gus Mus menegaskan bahwa sistem pemilihan Rais Am sesuai AD/ART.
“…. apabila ada pasal yang belum disepakati dalam muktamar tentang pemilihan Rais Am, tak bisa melalui musyawarah mufakat, maka akan dilakukan pemungutan suara oleh para Rois Syuriah.
Kalau nanti Anda-Anda tidak bisa disatukan lagi, maka saya dengan para kiai memberikan solusi, kalau bisa musyawarah kalau tak bisa pemungutan suara. Itu AD/ART kita. Karena ini urusan pemilihan Rais Am, maka kiai-kiai akan memilih pemimpin kiai,” kata Gus Mus.
Tapi ternyata petuah Gus Mus itu hanya retorika. Buktinya, sebagai PJs Rais Am ia tetap membiarkan AHWA dipaksakan. Karena itu banyak sekali kiai yang menganggap tangis Gus Mus itu hanya akting, sandiwara dan akal-akalan untuk mengelabuhi para muktamirin. “Jadi di belakang kepala mereka (Gus Mus cs) ada kepentingan. Mereka mau memanfaatkan para Rais Syuriah untuk kepentingan mereka,” kata Rais Syuriah PWNU Sulawesi Tengah (Sulteng) KH Dr Jamaluddin Mariajang. (Baca juga: Gus Solah: Muktamar di Jombang Memprihatinkan)
Ia mencontohkan saat Gus Mus memimpin pertemuan para kiai di Pendopo Kabupaten Jombang. ”Dia mau main ketok palu saja. Belum apa-apa AHWA sudah mau disetujui. Tapi saya tolak terus,” katanya sembari menegaskan bahwa umumnya kiai NU itu enggan bersitegang apalagi ribut. Mereka lebih suka diam, meski tak sesuai dengan hati dan pemikirannya. Kultur diam inilah yang dimanfaatkan oleh kiai-kiai pendukung AHWA. (Baca juga: "Muktamar Jombang, Muktamar Terburuk Sepanjang Sejarah") (tim)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




