Insgluni, alat pendeteksi gula darah non-invasif karya mahasiswa ITS. (Ist)
“Nilai ini jauh lebih besar dibandingkan alat serupa yang beredar di pasaran,” ujar pemuda asal Bangkalan itu.
Tak hanya itu, Insgluni juga dibekali dengan aplikasi berbasis android yang dapat dihubungkan dengan jaringan wi-fi. Aplikasi ini akan menerima dan menampung rekaman data pengujian kadar gula darah serta memberikan informasi kesehatan pengguna. Dengan demikian, pengguna dapat memantau dan mengontrol kadar gula darah secara teratur dan rutin.
Rafly bersama anggota timnya telah berhasil mengantarkan Insgluni pada tingkat 7 dalam Tingkatan Kesiapan Teknologi (TKT).
“Pada tingkat ini, Insgluni telah mencapai bentuk prototipe yang matang dan telah diuji massal pada skala lingkungan yang kecil,” terang Rafly.
Dengan demikian, tim dari Departemen Teknik Instrumentasi ini berhasil menghadirkan inovasi yang mendukung ketercapaian empat poin Sustainable Development Goals (SDGs). Yakni SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SGDs 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SGDs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Berkat inovasinya, tim tersebut sukses mengukir prestasi membanggakan tingkat nasional, yakni dengan menyabet gelar juara I kategori Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI) subkategori Presentasi pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2024 lalu.
Mahasiswa kelahiran 2002 tersebut membeberkan rencana selanjutnya untuk mengembangkan Insgluni lebih lanjut dan mendapatkan izin komersialisasi. Ia berharap, manfaat Insgluni dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
“Dengan keamanan, kemudahan, dan kenyamanan yang dibawa, Insgluni dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” pungkasnya. (msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






