Tafsir Al-Anbiya' 85-86: Dzulkifli A.S., Siapa Dia?

Tafsir Al-Anbiya Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie.

Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie

Rubrik ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.

Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Anbiya': 85-86. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.

85. Wa ismā‘īla wa idrīsa wa żal-kifl(i), kullum minaṣ-ṣābirīn(a).

(Ingatlah pula) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang sabar.

86. Wa adkhalnāhum fī raḥmatinā, innahum minaṣ-ṣāliḥīn(a).

Kami memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang saleh.

TAFSIR AKTUAL

Sebelumnya telah dikisahkan beberapa nabi utusan Tuhan dengan berbagai spesifikasinya. Ada yang berperan sebagai hakim yang punya keterampilan memproduk baju besi untuk berperang, seperti Dawud A.S.

Bahkan gunung dan burung ikutan bertasbih bersamanya. Pibadi yang sangat menarik, karena suaranya super merdu dan menghipnotis.

Sedangkan putranya, Sulaiman A.S. selain sebagai utusan Tuhan yang dikaruniai kecerdasan super, beliau juga super kaya raya, merajai makhluk jagat raya. Mereka tunduk kepadanya. Baik dari kalangan manusia, jin, burung, dan lain-lain patuh terhadap perintahnya.

Angin juga sebagai kendaraan angkasa, bak pesawat super jet pribadi, walau tanpa bahan bakar dan sistem navigasi.

Kemudian diunggah nabi Ayub A.S., seorang nabi terhormat, kaya dan ganteng, kemudian jatuh melarat, sakit parah, dan ditinggalkan semua yang dicintai.

Tidak saja umatnya yang meninggalkan, bahkan keluarga dekatnya. Tetapi Nabi Ayub bersabar dan terus tetap bersabar. Akhirnya, semua kehormatannya kembali seperti sedia kala.

Dan, pada ayat kaji ini diunggah tiga nama nabi yang mempunyai reputasi penyabar dan sangat shalih, meski tidak sepopuler nabi-nabi tersebut di atas. Mereka adalah Ismail A.S., Idris A.S., dan Dzulkifli (Dzu al-Kifl).

Soal nabi Ismail A.S. sudah banyak kisah yang diketahui, betapa dia saat masih seorang anak usia 13 tahunan, sangat patuh kepada orang tuanya. Rela mengorbankan nyawanya demi memenuhi perintah Allah SWT melalui ayah kandungnya sendiri, Ibrahim A.S. Kisah kesalehan anak-bapak ini setiap Id al-Adha selalu menjadi topik utama.

Begitu halnya Nabi Idris A.S. yang dinobatkan sebagai nabi akademik dan terpelajar. Dialah orang pertama yang mengerti ilmu baca dan tulis. Bahkan sebagai penciptanya. Idris, dalam bahasa arab dekat dengan kata “darasa”, yang artinya belajar dan belajar. Tadarus Alqur’an, artinya membaca berulang. Khatam, mulai lagi. Khatam, memulai lagi.

Dia sekarang – katanya - berada di surga entah sampai kapan. Hal itu, selain takdir, karena kecerdasannya.

Diriwayatkan, ketika diperlihatkan surga, maka Nabi Idris A.S. memohon kepada malaikat yang mengantarnya untuk diizinkan masuk. Tentu saja malaikat tidak mengizini. Nego punya nego, akhirnya diizini hanya sebentar saja. Begitu sudah di dalam, tak mau keluar, keenakan. Allah a’lam.

Kini Dzulkifli. Siapa dia? Nabi atau orang shalih biasa?

Soal ini diperdebatkan di dalam kitab-kitab tafsir. Pertama, dia sebagai orang shalih biasa. Nama aslinya Hizqil menurut satu riwayat dan itu diperdebatkan. Seorang laki-laki dari Bani Israil yang semula brutal, lalu mendadak menjadi shalih top.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO