Tafsir Al-Anbiya' 85-86: Dzulkifli A.S., Siapa Dia?

Tafsir Al-Anbiya Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie.

Hizqil punya sifat sangat mulia, sosialnya tinggi dan selalu tampil di depan soal tolong-menolong antar sesama. Pokoknya mendengar ada orang butuh, dia mesti datang membantu. Bahkan menanggung utang orang lain, denda, dan lain.

“Kifl”, artinya “bagian, menanggung, bertanggung-jawab”. Sifat loyal menanggung beban sesama inilah yang menyebabkan dia viral berjuluk “Dzu al-Kifl”, Sang Penanggung.

Perkasa, ganteng, kaya, menyebabkan dia doyan maksiat, utamanya lampias seksual. Lama, dia mengincar seorang wanita molek menggiurkan, tetapi wanita tersebut tidak merespons.

Suatu ketika, dia berkesempatan mendekati dan langsung menyodorkan uang enam puluh dinar sembari merayu: “Layani saya, please...”.

Wanita itu menerima dan... merebahkan diri, mempersilakan Dzulkifli berbuat semaunya. Begitu dia menindih dan hendak mem-push up, wanita itu pucat buanget dan menangis.

Melihat keadaan demikian, Dzulkifli tertegun dan bertanya: "Kok menangis seperti ini? Why? Apa saya kurang ganteng, atau uang yang aku berikan kurang banyak?"

Dengan merintih wanita berkata: "Ini perbuatan apa? Demi Tuhan, tidak pernah terbersit di hatiku ada perbuatan mesum macam ini menimpa diriku. Ini dosa besar, tak sanggup aku menanggung di hadapan-Nya nanti. Ya Allah, Allah, aku melakukan ini sungguh karena terpaksa. Aku sangat lapar dan sangat butuh".

Mendengar rintihan tersebut, 'burung' Dzulkifli langsung mengkeret dan lunglai tak berdaya. Dia segera turun dan berkata: "Segera rapikan kembali bajumu dan pergilah. Pergilah, ambil uang itu".

Dzulkifli spontan bersumpah "Wa Allah, La a’shi Allah ba’daha abada. Demi Allah, mulai sekarang saya tidak akan pernah berbuat maksiat selamanya."

Seiring perjalanan waktu, Dzulkifli ditempa dengan amal ibadah dan kesalehan sosial yang tinggi seperti sedia kala. Lalu jatuh sakit dan mati. Mendengar kematian Dzulkifli, masyarakat berduyun-duyun takziah ke rumahnya dan sesuatu terjadi sangat menakjubkan.

Di pintu gerbang rumahnya yang besar itu tertulis “Inn Allah qad ghafar Li Dzi al-kifl” Sunnguh Allah telah mengampuni dosa Dzulkifli”.

Mereka sama sekali tidak mengerti, siapa yang menulis dan dari mana tulisan itu. Begitu unggahan kitab “Nawadir al-Ushul”, Li al-Turmudzi al-Hakim.

Kedua, dia seorang nabi, sama dengan nabi-nabi lain sebelumnya. Bukan sekadar manusia shalih biasa. Dasar pemikiran ini adalah, bahwa Dzulkifli disebut di dalam Alqur’an Alkarim sejajar, sederetan, disandingkan dengan nabi-nabi lain.

Logikanya, deretan itu menunjukkan derajatnya. Setidaknya ada pada dua ayat, pertama pada ayat kaji ini dan kedua pada surah Shad: 48.

Di samping itu, mereka (termasuk Dzulkifli) dinyatakan sebagai hamba Allah yang bersabar (min al-shabirin), penuh rahmat (fi rahmatina), orang shalih (min al-shalihin). Pada surah Shad, Dzulkifli dinobatkan sebagai hamba pilihan (min al-akhyar). Deretan sifat super mulia begini ini hanya dimiliki oleh para nabi saja dan tidak mungkin dimiliki oleh orang biasa.

Dasar ketiga, bahwa nabi itu harus shalih sejak awal, sejak kecil memang bersih dan tidak pernah bersentuhan dengan maksiat. Maka, tidak boleh menjadi nabi dadakan. Sementara, menurut kisah di atas, bahwa Dzulkifli semula doyan maksiat.

Dengan deretan hujjah tersebut, maka pendapat kedua inilah yang secara argumentasi lebih unggul. Akan tetapi al-Qutuby menandaskan, bahwa kebanyakan ulama berpendapat bukan nabi, melainkan orang shalih. Berbeda dengan al-imam al-Hasan yang memilih pendapat kedua, yakni seorang nabi sebelum Nabi Ilyas A.S.. Allah a’lam.

Lalu, tersisa pertanyaan mengenai hadis-hadis yang dijadikan dasar oleh kelompok pertama. Jawabnya, bahwa mayoritas hadis-hadis di atas berstatus Gharib, lemah banget dan tidak kuat untuk dijadikan hujjah.

Lagian, orientasinya ke kisah-kisah bani Israel masa lalu yang rawan kesahihannya, utamanya unggahan ahli kitab. Senada dengan itu, ada kuburan di daerah Irak yang diduga sebagai kuburan nabi Dzulkifli. Allah a’lam.

Kisah Dzulkifli memang sangat beragam, tetapi semuanya mengarah kepada kebajikan, pertobatan, dan akhir amal yang baik. Pesan moralnya adalah: Jangan menilai gambar yang belum jadi, pasti tidak obyektif. Tunggu sampai sempurna, anda akan mengerti hakikatnya.

Bisa jadi, seseorang hari ini terkenal buruk, bahkan sangat buruk. Ya, tapi jangan dikutuk karena perjalanan masih panjang. Siapa tahu pada akhir hayatnya menjadi baik, seperti kisah Dzulkifli di atas. Mengetahui ada orang yang sedang tenggelam bukanlah dibiarkan, tetapi ditolong dengan segala cara. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO