Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Kejutan yang dahsyat (hari Kiamat) tidak membuat mereka sedih dan para malaikat akan menyambut mereka (dengan ucapan), “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.”
TAFSIR
Yang biasa dan lazim dalam bahasa arab, kata “inna” adalah huruf taukid yang maknanya “sungguh”. Inna Musa – bi al-ams - hadlir, Sesungguhnya Musa - kemarin - datang. Sedangkan kata “ILLA” adalah huruf istitsna’, kata pengecualian bermakna “kecuali”. Al-thullab niyam illa Musa, semua santri tidur kecuali Musa.
Pada ayat kaji ini, “Inn al-ladzin sabaqat lahum minna al-husna”. Pertama, “inn” sebagai huruf taukid bermakna “sungguh” seperti yang dipahami kebanyakan ulama’, maka ayat ini adalah pernyataan yang berdiri sendiri (kalam mustaqill) tanpa kaitan dengan ayat sebelumnya.
Maka artinya: “sesungguhnya orang-orang yang dianugerahi al-husna, surga, dst...”.
Kedua, “inn” bermakna “Illa”, kecuali. Maka ayat ini dipahami sebagai masih sambungan dari ayat sebelumnya (99-100) yang menyatakan, bahwa mereka yang menyekutukan Tuhan masuk neraka bersama sesembahan mereka selamanya. Sangat pedih dan menjerit-jerit, KECUALI (inn) orang-orang yang dianugerahi al-husna ... dst.
Pendapat kedua ini tidak populer, akan tetapi al-imam Abu Abdillah al-qurthubi mengomentari, bahwa di dalam Alqur’an, hanya pada ayat ini saja, Inn bermakna illa, dan memang secara lughah bisa diterima. Sementara di lain tempat tidak dijumpai.
Sebagai perbandingan, bahwa selain “INN” bermakna “illa” adalah lafadh “LAMMA”, seperti pada “In kull nafs LAMMA ‘aliha hafidh” (al-Thariq: 4). Artinya, tiada satu pun manusia KECUALI ada malaikat penjaganya.
Padahal yang umum dalam bahasa arab, Lamma itu bermakna “ketika”, masuk deretan dharaf zaman, keterangan waktu. Allah a’lam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




