Ilustrasi. Foto: Freepik/Kompas
Selain itu, trauma atau konflik dalam keluarga dapat memengaruhi harga diri dan perkembangan mental anak. Maka para ibu jangan lupa untuk menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat di rumah. Ini sekaligus membangun keharmonisan kelurga, terutama dengan anak-anak.
5. Memperhatikan Pola Tidur Anak
Faktor ini seringkali para ibu lalai. Sehingga putra-putrinya dibiarkan tak tidur karena berbagai alasan. Dikutip dari Times of India, tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting bagi perkembangan anak. Anak-anak yang tidak cukup tidur cenderung tertinggal dalam pembelajaran, kurang bersemangat untuk belajar, atau bahkan berisiko terkena masalah kesehatan jangka panjang.
Orang tua yang membiasakan anak untuk memiliki pola tidur yang teratur dan cukup, memiliki dampak positif terhadap kesuksesan anak di masa depan. Karena itu anak-anak perlu tidur yang cukup, sehingga mereka menjadi lebih fokus, kreatif, dan siap menghadapi tantangan.
6. Main Gadget Bikin Otak Lambat
Ada hasil penelitian dari jurnal American Academy of Pediatrics. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan terlalu banyak waktu bermain gadget memiliki perkembangan otak yang lebih lambat, jika dibandingkan dengan mereka yang lebih sedikit terpapar gadget.
Para orang tua, dengan demikian, harus membatasi putra-putrinya bermain gadget.
Itu artinya, membatasi screentime dan memberikan anak-anak lebih banyak waktu untuk berinteraksi secara langsung dengan dunia nyata dapat meningkatkan perkembangan kognitif mereka.
Ironisnya, kadang kita menyaksikan seorang ibu yang sedang mengasuh anaknya malah memberikan mainan gadget kepada anaknya agar tidak rewel dan merepotkan. Sehingga ia sendiri bisa leluasa main gadget berjam-jam. Jadi ia malah bersaing main gadget dengan anak yang diasuhnya.
7. Menghargai Upaya, bukan hanya Hasil, bukan Hindari Kegagalan
Lagi-lagi ini penting bagi orang tua untuk menghargai usaha anak-anak, bukan hanya hasil akhir. Menurut psikolog dari Stanford University, Carol Dweck, ada dua jenis pola pikir yang perlu dipahami oleh orang tua.
Pertama, pola pikir tetap (fixed mindset) yang menganggap bahwa kecerdasan dan kemampuan adalah sifat yang tetap. Kedua, pola pikir berkembang (growth mindset), yang melihat kegagalan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang.
Ketika orang tua mau menghargai upaya anak, bukan sekadar melihat hasilnya, maka anak tidak akan mudah menyerah saat gagal. Mereka yang diberi kesempatan untuk gagal dan mencoba lagi akan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan, dibandingkan dengan anak-anak yang justru diajarkan untuk menghindari kegagalan.
Sikap optimistis ini penting karena suatu upaya atau ikhtiar di bidang apapun tak selalu sukses secara instans. Tapi perlu proses bahkan kadang melalui beberapa kali kegagalan. Karena itu seorang anak perlu semangat percaya diri dan sikap optimistis.
8. Memperkenalkan Optimisme
Anak-anak yang optimistis cenderung melihat tantangan sebagai hal yang sementara dan dapat diatasi, sehingga berpotensi untuk lebih mampu menangani dan berhasil melewatinya. Tantangan, dengan demikian, bukan sesuatu yang menakutkan atau beban, sebaliknya suatu tahap atau etape yang harus diatasi dan dilewati.
Ketika orang tua mengajarkan anak untuk tetap optimistis, termasuk saat menghadapi kesulitan, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan mampu mengatasi rintangan di masa depan.
9. Menjadi Teladan yang Baik atau Contoh Nyata
Dalam bahasa agama (Islam) ini disebut contoh bil hal atau contoh nyata dari prilaku. Jadi orang tua menjadi contoh nyata tempat anak-anak meniru. Ini berarti orang tua menjadi teladan yang baik. Dan inilah salah satu cara terbaik untuk membantu anak-anak berkembang menjadi pribadi yang sukses.
Jika orang tua konsisten menunjukkan perilaku positif, tanggung jawab, dan rasa empati, maka lama-kelamaan ini juga turut ditiru dan menjadi karakter anak-anak. Nah, karakter inilah yang sangat penting.
Secara umum karakter berarti tabiat, watak, atau kepribadian yang membentuk nilai dan prilaku seseorang. Tapi lebih dari itu, karakter sejatinya adalah sifat kejiwaan, akhlak, budi pekerti, yang menjadi dasar tingkah laku seseorang sehingga ia berprilaku santun, sopan dan menghargai serta menghormati orang lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




