KH Muhammad Yusuf Hasyim (tak pakai peci) sedang menjelaskan peta musuh dan strategi perang kepada kepada KH Moenasir Ali (komandan) dan prajurit lainnya. Foto: Dokumentasi keluarga dan Pesantren Tebuireng.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Hasil riset Prof Usep Abdul Matin, MA, Ph.D dan timnya menemukan data bahwa KH Muhammad Yusuf Hasyim dikenal sebagai pejuang pemberani sejak usia remaja. Bahkan sejak usia 12 tahun. Berkali-kali Pak Ud – panggilan akrab KH Muhammad Yusuf Hasyim – terlibat penyerangan terhadap basis lawan – baik tentara Belanda, Jepang maupun Inggris - tanpa memperhitungkan risiko. Di bawah ini tulisan serial ke-3 wartawan HARIAN BANGSA, M. Mas’ud Adnan, yang meliput seminar di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya tersebut.
Menurut Prof Usep, dalam pertempuran 10 November di Kota Surabaya Pak Ud juga menunjukkan reputasinya sebagai pejuang muda pemberani.
BACA JUGA:
- Rais Syuriah PBNU KH Ubaidillah Ruhiat Dukung Kiai Asep Rais Aam, Gelombang Dukungan Makin Besar
- Bupati Majalengka Gratiskan Yatim Hingga Sarjana, Cita-Cita Kiai Asep Warga Majalengka Sarjana Semua
- Minta Santri Tak Minder, Kiai Asep pernah Drop Out Sekolah Kelas II SMA, Tapi Jadi Profesor
- Mendes PDT Yandri: Amanatul Ummah Is The Best, The Best, The Best
“Dalam perang 10 November tersebut Kiai Yusuf Hasyim berjuang bersama gerilyawan Indonesia di bawah Komando Penyerbuan Abdul Haq (pemimpin gerilyawan) Surabaya. Tank dan mobil konvoi berhasil diledakkan oleh KH M Yusuf Hasyim beserta para gerilyawan tersebut,” ujar Prof Usep sembari mengutip beberapa sumber primer.
Prof Usep tak habis pikir. Guru Besar lulusan Monash University Australia itu terkagum-kagum terhadap keberanian Pak Ud. Apalagi jika dibandingkan dengan peran kita sekarang.
“Kita saat usia 16 tahun ada dimana,” kata Prof Usep yang S2-nya lulusan Duke University Amerika Serikat dan Leiden University Belanda.

Prof Usep Abdul Matin, MA, Ph.D. Foto: MMA/bangsaonline
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




