Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA dalam acara Halal Bihalal dengan ratusan guru dan kepala sekolah se-Kecamatan Pacet dan sekitarnya di Gedung Serba Guna Afia Pacet Mojokerto, Minggu (29/3/2022). Foto: MMA/bangsaonline
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com – Komitmen Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa Indonesia sangat tinggi. Ini terlihat dari kepeduliannya terhadap anak kampung atau anak desa di sekitar lingkungan Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang diasuhnya di Pacet Mojokerto. Kiai Asep menampung ribuan anak-anak desa – terutama dari keluarga miskin – di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Unggulan dan Madrasah Aliyah (MA) Unggulan Hikmatul Amanah.
“Ini tistas. Gratis tapi berkualitas,” ujar Prof Kiai Asep Saifuddin Chalim dalam acara Halal Bihalal dengan ratusan guru dan kepala sekolah se-Kecamatan Pacet dan sekitarnya di Gedung Serba Guna Afia Pacet Mojokerto, Minggu (29/3/2022).
Dalam acara itu hadir Bupati Kabupaten Mojokerto Dr H Muhammad Al Baraa (Gus Bara), Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto Lutfi serta sejumlah anggota DPRD, antara lain Ahmad Dofir, Ainul Yaqin dan lainnya.
Seperti diberitakan BANGSAONLINE, murid MTs Unggulan Hikmatul Amanah dan MA Unggulan Hikmatul Amanah mencapai ribuan. Mereka tak dipungut SPP alias gratis. Bahkan mereka tiap hari mendapat makan gratis.
“Ini sudah berlangsung jauh sebelum ada MBG,” ujar Kiai Asep.

Para kepala sekolah dan guru dalam acara Halal Bihalal Hikmatul Amanah yang juga dihadiri para anggota DPRD Kabupaten Mojokerto dan Bupati Mojokerto Gus Barra. Foto: MMA/bangsaonline
Letak MTs dan MA Unggulan Hikmatul Amanah itu berada di Jalan Raya Tirtowening KM.4, Bendunganjati, Pacet, Mojokerto. Tempatnya bersebelahan dengan kampus Unversitas KH Abdul Chalim atau UAC. Yaitu kampus yang juga didirikan oleh Kiai Asep Saifuddin Chalim.
Kiai Asep mendirikan MTs Unggulan Hikmatul Amanah dan MA Unggulan Hikmatul Amanah itu sejak tahun 2009. Madrasah ini berada di bawah naungan Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang diasuh oleh Kiai Asep Saifuddin Chalim. Madrasah ini khusus warga Mojokerto, terutama orang-orang tak mampu dari kasawan kampung atau desa dekat Amanatul Ummah.
Kini lulusan MTs dan MA Unggulan Hikmatul Amanah itu sudah banyak yang diterima di perguruan tinggi negeri.
“Saya bercita-cita orang-orang di kampung ini (sekitar Amanatul Ummah) menjadi doktor-doktor dan insinyur agar bisa mengubah status ekonominya,” ujar Kiai Asep di depan para guru dan kepala sekolah itu.
Menurut Kiai Asep, perubahan itu harus muncul dari dalam diri kita. “Saya dulu berangkat dari kuli bangunan. Dari nol. Saya tak lulus SMA karena abah saya meninggal saat saya kelas II. Saya tak bisa membayar SPP, tak bisa beli sepatu,” ujar Kiai Asep.
“Hidup saya ngenger di mana-mana,” tambah Kiai Asep.
Saat ditinggal abahnya meninggal, Kiai Asep mengaku mengembara ke mana-mana. Untuk sekedar bisa makan dan juga belajar.
“Saya pernah jadi debt collector,” ujar putra pahlawan nasional yang juga pendiri NU KH Abdul Chalim itu.
Akhirnya, tutur Kiai Asep, ia kembali ke Surabaya karena ingin kuliah. Tapi ia tak punya uang untuk mendaftar ke perguruan tinggi.
“Uang pendaftarannya saat itu Rp 6.000,” tutur Kiai Asep. Ia memutuskan cari uang lewat bekerja sebagai kuli bangunan.
Dari situlah Kiai Asep kemudian merintis jadi guru. “Saya dulu guru SMP di pojok gang,” ujarnya lagi.
Namun karena memiliki semangat dari dalam akhir sukses menjadi guru professional. Bahkan menjadi guru besar.
“Jadi, kalau ada keinginan berubah dari dalam diri kita ya kita bekerja sebagai guru sebaik-baiknya,” ujar Kiai Asep kepada ratusan guru dan kepala sekolah yang memadati salah satu ruang Gedung Serba Guna Afia tersebut.

























