Gencar Sesatkan dan Kafirkan Orang Islam, Salafi Wahabi Abaikan Hadits-Hadits Shahih

Gencar Sesatkan dan Kafirkan Orang Islam, Salafi Wahabi Abaikan Hadits-Hadits Shahih Desain grafis: bangsaonline

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Meski jumlahnya sangat kecil tapi kelompok Islam yang mengatasnamakan Salafi di Indonensia adalah terdepan dalam mencela kelompok Islam lainnya.

Bahkam kelompok Islam yang identik dengan jenggot - meski kadang hanya beberapa helai - itu sangat gencar mencap kafir kelompok Islam lain meski tiap hari bersyahadat. Salah satu contoh, Salafi Wahabi menyebut Ali Khamenei bukan ayatullah tapi ayat setan. Mereka menghukumi Ali Khamenei kafir. Padahal Ali Khamenei tiap shalat niscaya selalu baca dua kalimat syahadat.

Sedemimkan gencarnya kelompok Wahabi mengafirkan kelompok Islam lain sampai mereka seolah lebih Islam dari pada Rasulullah SAW. Padahal Rasulullah justru melarang mengafirkan orang lslam yang telah bersyahadat.

Simak saja peristiwa Usamah bin Zaid yang membunuh Mirdas bin Nahik. Rasulullah SAW marah karena Mirdas bin Nahik telah mengucapkan syahadat tapi Usamah tetap membunuhnya dengan alasan Mirdas mengucapkan dua kalimat syahadat lantaran terpaksa karena terpojok dan takut dibunuh.

Rasulullah SAW justru semakin marah karena Usamah telah menghaikimi keyakinan Mirdas bin Nahik. "Apakah kamu telah membelah dadanya sehingga kamu tahu bahwa ia jujur atau tidak," tegas Rasulullah SAW.

Menurut Prof Dr KH Imam Ghazali Said, MA, Salafi Wahabi banyak mengabaikan Hadits sehingga dalam memahami Islam sangat parsial alias tidak utuh dan konprehensif. Demi membela kelompoknya mereka tidak obyektif bahkan tidak jujur. Karena itu sikap takfiri menjadi "menu" mereka sehari-hari.

Padahal ada Hadits yang artinya: Siapa saja yang berkata kepada saudaranya (sesama muslim) 'Wahai kafir', maka salah satu dari keduanya akan menanggung kekafiran tersebut." Hadits ini muttafaqun alaih. Artinya shahih karena diriwiyatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Lalu bagaimana sebenarnya sejarah Wahabi? Benarkah ajarannya berasal dari Imam Ibnu Hanbal, Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahab? Lalu bagaimana dengan Khalid Basalamah yang sering menghukumi bid'ah dan sesat kelompok Islam lain sehingga seolah kelompok Islam lain tak ada yang benar? Benarkah ia propagandis dan banyak bicara tanpa ilmu?

Silakan simak wawancara Prof Dr KH Imam Ghazali Said, MA, Guru Besar UINSA Sunan Ampel Surabaya dalam Podcast BANGSAONLINE. Kiai Imam Ghazali Said pernah kuliah di Universitas Al Azhar Mesir. Lalu menempuh S2 di Universitas Khartoum Sudan dan kini pengasuh Pesantren Mahasiswa An Nur Wonocolo Surabaya.