Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani saat bersama calon siswa Sekolah Rakyat. Foto: Ist
Gus Yani juga menegaskan komitmen untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan agar kualitas pendidikan di Sekolah Rakyat tetap relevan dan kompetitif.
Sementara itu, Asisten I Sekda Gresik, Suprapto, menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan program prioritas pemerintah pusat dalam bentuk asrama terpadu yang menjamin pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup siswa.
Program ini menyasar jenjang SD, SMP, dan SMA, dengan target pembangunan 200 sekolah di seluruh Indonesia pada tahap awal tahun ajaran 2025/2026.
Pemkab Gresik menjadi salah satu pelaksana tahap awal, dengan lokasi jenjang SMA bertempat di UPT SMP Negeri 30 Gresik, Jalan Kanjeng Sepuh, Desa Mriyunan, Kecamatan Sidayu, yang kini sedang direnovasi.
"Jumlah peserta didik dan rombongan belajar (Rombel) awal 2 kelas dengan jumlah siswa awal 50 orang. Ada perubahan berdasarkan instruksi Kementerian Sosial No. 1824/1/DL.03/5/2025 tanggal 30 Mei 2025. Jumlah Rombel menjadi 3 kelas, jumlah siswa menjadi 75 orang dengan komposisi siswa 32 laki-laki dan 43 perempuan," urai Suprapto.
Sasaran utama program ini adalah anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem (Desil 1 dan 2), yang telah mendapat izin dari orang tua atau wali untuk tinggal di asrama.
"Setiap lulusan Sekolah Rakyat akan memperoleh ijazah resmi setara dengan ijazah sekolah formal nasional. Ijazah ini dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi maupun untuk masuk dunia kerja," pungkasnya. (hud/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




