Wakil Bupati Gresik bersama sejumlah kepala OPD dalam sosialisasi Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting. Foto: Ist
“Khusus Gresik, turun tipis dari 15,4 persen ke 15,2 persen. Penurunan ini tetap patut diapresiasi sebagai buah kerja bersama. Namun perjuangan belum selesai, kolaborasi harus terus diperkuat,” kata Alif.
Saat ini, Gresik menempati posisi 8 se-Jawa Timur dalam penanganan stunting. Sebagai wujud keseriusan, Wakil Bupati Gresik mengaku turut terjun langsung dalam kegiatan mini lokakarya di sejumlah kecamatan.
“Saya turun langsung untuk memastikan intervensi dilakukan tepat sasaran. Pendekatan kita harus kolaboratif dan berbasis data,” tuturnya.
Gresik telah menjalankan sejumlah program unggulan, di antaranya GUS (Gresik Urus Stunting) yang dikelola Dinas Kesehatan, dan Detak Keris (Deteksi, Tanggulangi, Kurangi Keluarga Risiko Stunting) oleh Dinas KBPPA. Keduanya direncanakan akan terintegrasi guna memperkuat monitoring dan evaluasi.
Selain itu, pendekatan berbasis masyarakat juga diterapkan melalui program Yanda Bunda, yakni Orang Tua Asuh bagi anak-anak terdampak stunting.
“Semua pihak konsen, semua pihak bergerak. Mulai dari perangkat desa, kader kesehatan, hingga OPD teknis. Ini momentum menyatukan langkah demi generasi emas Gresik yang sehat dan berkualitas,” urai Alif. (hud/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




