Pranata Humas Ahli Muda Biro Adminsitrasi Pimpinan Setdaprov Jatim, I Gede Alfian Septamiarsa.
Isu komunikasi terkini juga menunjukkan bahwa humas tidak bisa bekerja sendirian. Di era digital, otoritas komunikasi tidak lagi monopoli pemerintah atau perusahaan. Warganet, influencer, hingga komunitas lokal kini menjadi stakeholders penting yang ikut membentuk persepsi publik.
Karena itu, strategi komunikasi hari ini menggunakan pendekatan partisipatif. Artinya Humas perlu merangkul komunitas, mendengar suara akar rumput, sekaligus membangun jejaring dengan berbagai stakeholder. Salah satunya dengan ikut melibatkan para content creator yang memiliki kredibilitas di ruang digital, tokoh masyarakat yang menjadi kunci dalam suatu lingkungan, dan sebagainya. Kolaborasi dan sinergi inilah mampu menjadi kunci agar pesan tidak berhenti pada monolog, melainkan berkembang menjadi dialog yang sehat.
Humanizing the Government
Dalam konteks pemerintahan, pendekatan komunikasi yang berempati adalah sebuah keniscayaan. Masyarakat tidak ingin hanya mendengar jargon keberhasilan atau berbagai prestasi, mereka ingin merasakan kehadiran pemerintah di tengah problem nyata.
Dari sinilah lahir konsep humanizing the government yaitu dimana Humas dituntut untuk bisa menghadirkan wajah pemerintah yang hangat, mendengar, dan hadir secara nyata di lapangan.
Sebagai contoh, ketika pejabat publik turun langsung ke pasar untuk memastikan sebuah permasalahan atau kondisi tertentu, lalu menyampaikan penjelasan dengan lugas dan sederhana, itu bukan sekadar liputan seremonial. Itu adalah bentuk komunikasi empati yang menghubungkan hati masyarakat dengan kebijakan publik.
Kehumasan hari ini tidak cukup berhenti pada narasi. Yang dibutuhkan adalah aksi nyata yang mendukung narasi itu sendiri. Komunikasi akan kehilangan daya jika tidak ditopang oleh kebijakan yang konkret dan keberpihakan yang jelas.
Di era krisis narasi, humas tidak boleh terjebak pada lip service. Humas harus menjadi storyteller yang otentik, penghubung atau penjembatan yang jujur, dan fasilitator yang membuka ruang partisipasi publik. Inilah tantangan sekaligus peluang bagi para praktisi komunikasi yaitu dapat menjaga agar narasi publik tidak hanyut dalam bias emosi, tetapi tetap berpijak pada data, empati, dan harapan.
Penulis adalah Pranata Humas Ahli Muda Biro Adminsitrasi Pimpinan Setdaprov Jatim
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






