Puisi-Puisi Karya Siswa SMAN 1 Kraksaan

Puisi-Puisi Karya Siswa SMAN 1 Kraksaan Siswa-siswi SMAN 1 Kraksaan Probolinggo yang telah melahirkan sejumlah karya puisi.

Pada suatu saat ketika disekolah

Dikala adanya canda tawa

Tiba-tiba ada seseorang nyeletuk

Mengatakan dengan tertawa

la menatapku

Dan tertawa “Senyummu seperti joker yang sedang tertawa, lebar banget!"

Distu aku langsung merenung

“Apakah benar apa yang ia bilang bahwa senyumku seperti joker ?"

Saat dirumah

Aku menatap cermin

Lalu aku tersenyum di depan cermin

Dan berkata pada diriku “YANG KUAT YA”

Padahal saat itu aku merasa insecure

tetapi aku masih bisa menguatkan diri

Tidak berani tersenyum lagi

Aku murung

Aku mulai menyendiri

Saat ada yang bercanda gurau

Aku hanya diam

Tidak berani untuk tersenyum

hanya karena satu perkatan itu

Aku sudah terlanjur larut dalam rasa insecure


Bahkan aku membandingkan diriku dengan orang lain

Dalam hatiku berkata

"Mereka memiliki senyuman manis ya, andai aku seperti mereka"

Suatu hari ada orang yang memujiku

Orang itu berkata

“senyumanmu manis sekali, orang orang pasti akan suka bercanda tawa denganmu”

Disitu aku tidak percaya akan hal itu

“Apakah itu benar?” Ucapku dalam hati

Aku mencoba menguatkan diriku lagi

Aku menatap cermin lagi dan aku tersenyun

"Ya ternyata benar, senyumaku jika aku PERCAYA DIRI”

Mulai saat itu aku berusaha berbaur lagi

menikmati canda dan tawa besama teman

“TERNYATA AKU TIDAK SEBURUK ITU"

Terimakasih untuk orang yang telah menyemangatiku kembali

Guratan Pilu Yang Kekal Abadi

Oleh: Fikriyyah Putri Salsabila

la datang dengan paras lesu dan angkuhnya

Sorot matanya menelisik bagai hendak merendahkan

Mulut ku yang berbicara seakan ingin dibungkamnya

Tatapanku terpasung, menangkap bara yang ditahannya

Mulutnya beradu dalam ketegangan

Kata demi kata dilontarkan, bagai petir menggulung udara

Semua hening……

seolah semesta turut menyaksikan jiwa yang terbelenggu

lidahnya tajammenusuk tanpa sentuhan

Kata-kata yang dilontarkan seperti anak panah yang menembus cakrawala

Menoreh luka tanpa darah

Menggelegakkan hati yang tenang dan ramah

Tak cukup ia menyakitiku lewat ujaran

Tangannya turut bicara dengan paksa

Dipukul bukan karena salahku

Melainkan ia ingin aku membisu

Aku bertanya lirih dalam benakku

Salahku dimana ?

Bukankah setiap orang berhak bersuara

Apakah suaraku harus dibungkam ?

Pantaskah diriku dilukai sedemikian rupa?

Bukankah tutur pun telah cukup menyayat rasa?

Lakumu mengubah pandanganku pada lelaki

Guratan menyengat menjelma bayang di relung kalbuku

Tuturmu yang tajam membuatku tertunduk dalam tanya

Bisikanmu selalu menggema dalam ruang nuraniku

Namun nestapaku, kugunakan pada Langit dan Cahaya

Semoga hembusan doaku menghapus goresan noda dikisahmu

"Dulu Aku Terkucilkan, Sekarang Aku Akan Buktikan"

Oleh: Nofila Maulida

Dulu aku dipandang hanya bayangan

Tak disapa dalam keramaian

Langkahku dilirik penuh dengan ejekan

Lalu, Suaraku menghilang di tengah hinaan

Aku tak dianggap

Seolah hadirku hanya beban

Tertawa ketika aku jatuh

dan berpaling saat aku mulai teguh

Aku. Simpan air mata menjadi tenaga

Berani bangkit dalam penuh hinaan

Kusedih bangkit menjadi semangat yang membara

Dan aku tahu, waktuku akan datang

Aku menangis dalam keheningan.

Aku terluka dalam kesiapan

Aku bangkit dalam dukungan

dan ini aku yang sekarang

Kuhantui kau dengan karya

Akan kubuat dunia merasakan sakitku

INI, bukan balas dendam

Namun aku ingin, kamu selalu melihat sakitku dan lukaku dalam karyaku.

Aku tak ingin tinggal diam

Akan kupenuhi kau dengan suara karyaku

Aku, tak pernah butuh pengakuan dari yang menghina

Aku cukup memmbuktikan, Bahwa aku sangatlah berharga

Dulu aku dikucilkan, Sekarang aku dibutuhkan

Tak perlu jadi sempurna untuk bersinar

Aku, hanya cukup jadi diriku yang tak lagi gentar.

Aku dan Masa Lalu

Oleh: Mei Linda Dwi Rahmaningtias

Hai, perkenalkan ini aku

Raga yang dipaksa untuk tetap tumbuh

Perasaan menggebu seolah tak menemukan jalan untuk mencapai sebuah akhir

diselimuti TRAUMA dan keraguan

Aku berdiri dalam ruang sepi

Semua terasa seperti duri

Seakan ingin tumbang

tapi terpaksa harus bertahan

Meski luka telah lama membekas

aku berusaha bangkit enggan terpuruk dalam kesedihan

Dari gelap aku temukan cahaya

Berlagak kuat, melangkah tanpa ragu

Suara hati kini menjadi pancaran

Tegas berdiri, melawan deraan

Perundungan hanyalah masalalu

Kini kuasa berasa ditangan sendiri

Harus Bagaimana?

Oleh: Lailatuzzahra Tussitah

Ini tentang ia senyumnya manis semanis gula dan trauma

yang tersimpan rapi tanpa celah

Bagaikan tak ada luka yang mengganggu

Ia diam bukan karena lupa

Ia tertawa bukan karena suka

tapi ia menyembunyikan luka

hingga tak tahu harus bagaimana

AKU YANG BUNGKAM

Oleh: Nabila Zakhrotus Sifa

Di pagi hari yang cerah

Matahari menunjukkan sinarnya yang indah

Angin sejuk menyelimuti raga yang sakit ini

Sebuah ruang yang akan menjadi memori indah sirna

Di ruang itu, ragaku menahan sakit

Menjuluki diriku ini seseorang beban berbadan gendut yang harus diabaikan

Kata-kata menusuk yang mereka ucapkan seolah hal sepele yang tidak perlu diingat

Di ruang itu, mereka semua tertawa riang mengejek

Sedangkan diriku, menahan tangis pilu dan kecewa hingga kini

*Penulis adalah Siswa , Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO