Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Karena itu, segala urusan duniawi harus disesuaikan demi menghormati kewajiban puasa Ramadhan. Jangan dibalik. Urusan duniawi yang dibuat-buat sendiri didramatisir seolah memenuhi syarat untuk menggugurkan kewajiban puasa. Itu pikiran “fasiq”, tidak serius merespons perintah Tuhan.
Alasan kuno adalah kemisikinan yang menghimpit dan aturan kerja yang ketat. Kalau tidak kerja, maka tidak makan. Tapi kalau kerja, maka tidak kuat berpuasa. Atau, kalau tidak sanggup kerja, akan dipecat dsb. Abu Hurairah R.A. bekerja sebagai kuli panggul di pasar, tapi rajin berpuasa sunnah.
Sesungguhnya Tuhan sudah mengerti itu semua. Makanya memberi dispensasi kepada personil tertentu. Antara lain wanita hamil atau menyusui. Ya, di kitab fikih beragam komentar. Tetapi kolom ini memilih, bahwa wanita hamil atau menyusui boleh tidak berpuasa dengan konpensasi pilihan juga: qadla saja atau membayar fidyah saja. Kasihan kalau dibebani keduanya.
Kedua, musafir. Orang yang bepergian dan telah memenuhi syarat. Syarat jarak tempuh dsb. Safar itu touring, ngelencer, dan bukan kerja. Sopir bus jarak jauh, apakah boleh tidak puasa. Ya tanya saja kepada si supir itu: Mas, anda itu ngelencer atau kerja. Pasti menjawab kerja. Itu “mihnah” namanya dan bukan safar.
Terhadap pekerja berat sama dengan sopir di atas. Itu mihnah. Ya tinggal disederhakan, dikurangi porsi kerjanya. Ini, sekaligus pendidikan agar kerja sebelas bulan hasilnya bisa dinikmati satu bulan.
Sebuah komparasi antara kerja dan hasil yang ideal. Sekaligus pendidikan agar memlilih pekerjaaan yang produktif dan pandai mengatur belanja.
Maka nyupir, kerja berat, adalah mihnah, kerja sehari-hari yang tidak cukup kuat dipakai alasan untk tidak puasa. Andai dibolehkan tidak puasa, terus qadla’nya kapan. Lha wong di luar Ramadhan nyupir terus, kerja berat terus.
Berpuasa itu kurrikulum Tuhan yang sangat bijak. Seolah seperti “paksaan” dari Dzat Yang Mempunyai perut. Diistirahatkan sejenak demi kesehatan pelaku puasa sendiri. Memberi berkesempatan usus besar menghimpun tenaga dan pemulihan dari kerja panjang. Tentu, setelah berpuasa menjadi lebih sehat dan fresh. Itulah sabda bijak: puasa itu menyehatkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




