Kami Bukan Penonton: Kehadiran Bandara Militer dan Manfaat Publik

Kami Bukan Penonton: Kehadiran Bandara Militer dan Manfaat Publik Syaiful Bahri.

Menjaga Stabilitas Regional: Kehadiran pusat latihan militer bertaraf internasional akan menarik perhatian global. Kesiapan keamanan regional Situbondo harus ditingkatkan untuk menjaga stabilitas, agar manfaat ekonomi dari kehadiran delegasi asing dapat dinikmati tanpa menimbulkan risiko keamanan.

3. Kesiapan aspek sumber daya manusia (SDM) lokal

Sebuah proyek Rp1,7 triliun hanya akan menjadi "tontonan" jika tenaga kerjanya didatangkan dari luar. Situbondo harus memastikan warganya menjadi subjek, bukan objek pembangunan.

Program Pelatihan Masif: Pemerintah Daerah perlu segera meluncurkan program pelatihan khusus yang terintegrasi dengan kebutuhan bandara: manajemen logistik penerbangan, jasa perhotelan, ground handling, keamanan bandara (non-militer), dan kemampuan bahasa asing.

Kemitraan UMKM: Buat payung hukum yang mewajibkan kontraktor dan operator bandara untuk berkolaborasi dengan UMKM lokal dalam penyediaan kebutuhan harian (katering, laundry, suvenir) bagi ribuan personel militer yang berlatih dan penumpang sipil.

Edukasi Vokasi: Kolaborasi dengan SMK dan Perguruan Tinggi setempat harus diperkuat agar kurikulum mereka segera disesuaikan untuk mencetak lulusan yang siap bekerja di sektor aviasi dan jasa yang tumbuh akibat bandara.

Penutup

Bandara Kiai As'ad adalah tiket emas Situbondo untuk terbang tinggi. Namun, landasan pacu menuju keberhasilan ini bukan hanya terbuat dari beton, melainkan juga dari komitmen lingkungan yang teguh, keseimbangan keamanan sipil-militer yang matang, dan investasi serius pada kualitas SDM lokal. Hanya dengan mengelola ketiga aspek kritis ini, Situbondo benar-benar dapat meraih berkah pembangunan yang berkelanjutan.

*Penulis merupakan wartawan HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO