Ilustrasi teror. Foto: Freepik.
Leonard menyampaikan, Iqbal Damanik melalui akun medsos pribadinya kerap menayangkan kondisi banjir di Sumatera dan respons pemerintah dalam menangani bencana. Beberapa juru kampanye Greenpeace juga bersuara melalui wawancara media maupun medsos.
Leonard menegaskan, berbagai pernyataan yang disampaikan Greenpeace memang berangkat dari temuan tim yang pergi ke lapangan pascabencana, serta temuan dan analisis Greenpeace. Namun, dalam beberapa hari terakhir, Iqbal banyak menerima serangan di kolom komentar unggahan media sosialnya, termasuk pesan bernada ancaman lewat direct message (DM) Instagram.
“Kritik publik, termasuk pengkampanye kami, terhadap cara pemerintah menangani banjir Sumatera ini sebenarnya lahir dari keprihatinan dan solidaritas terhadap para korban. Apalagi di balik banjir Sumatera ini ada persoalan perusakan lingkungan, yakni deforestasi dan alih fungsi lahan yang terjadi menahun, yang terjadi atas andil pemerintah juga. Belum lagi pemerintahan Prabowo malah akan membuka jutaan hektare lahan di Papua, yang bakal merugikan Masyarakat Adat dan memperburuk dampak krisis iklim,” papar Leonard.
Kepala Greenpeace Indonesia tersebut mengecam upaya teror yang terjadi pada aktivis, jurnalis, hingga pegiat medsos. Ia menilai, kritik publik mestinya tak diperlakukan sebagai ancaman, melainkan ekspresi demokrasi dan pengingat bagi pemerintah untuk tetap akuntabel. Kebebasan berbicara merupakan hak yang dijamin dalam konstitusi.
“Upaya teror tak akan membuat kami gentar. Greenpeace akan terus bersuara untuk keadilan iklim, HAM, dan demokrasi,” tutupnya. (msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




