Pornhub juga menegaskan bahwa kata sandi, detail pembayaran, dan informasi keuangan pengguna tidak ikut terdampak dalam insiden ini.
ShinyHunters dilaporkan telah mengirimkan email pemerasan kepada pihak Pornhub dengan tuntutan pembayaran dalam bentuk bitcoin agar data tersebut tidak dipublikasikan. Sejumlah contoh data yang dibagikan kepada jurnalis menunjukkan betapa detailnya informasi analitik tersebut, hingga mampu merekam tindakan pengguna secara individual, termasuk pencarian spesifik dan video yang ditonton.
Sejauh ini, sejumlah perusahaan keamanan siber menyatakan belum menemukan indikasi bahwa data tersebut telah bocor atau dipublikasikan secara luas di internet.
Artinya, ancaman kebocoran masih bersifat potensial, meski risiko penyalahgunaan tetap tinggi.
Sementara itu, dalam wawancara dengan situs keamanan siber BleepingComputer, pihak Mixpanel membantah bahwa data Pornhub tersebut berasal dari insiden kebocoran yang mereka alami pada November 2025.
Mixpanel mengklaim tidak memiliki bukti bahwa data tersebut diambil dalam peretasan terbaru tersebut.
Mixpanel juga menyatakan bahwa akses terakhir terhadap data tersebut terjadi melalui akun yang sah pada tahun 2023. Pernyataan ini justru memunculkan pertanyaan baru mengenai bagaimana data sensitif itu akhirnya bisa jatuh ke tangan peretas, serta apakah terdapat celah keamanan internal atau penyalahgunaan akses yang belum terungkap, demikian dilansir dari Vice. (rif)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




