Pada tahap awal, pembangunan difokuskan pada Koridor 1A dengan rute Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo. Sementara itu, Koridor 1B dengan rute Gubeng–Pasar Turi akan menyusul setelah persoalan pembebasan lahan dan relokasi warga terselesaikan.
Proyek SRRL dirancang menggunakan sistem double track at grade dengan pelebaran jalur ke samping dan memanfaatkan lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Untuk tahap pertama, kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai Rp5,4 triliun. Pendanaan bersumber dari pinjaman luar negeri berbunga rendah melalui KfW Jerman dan dijamin oleh Kementerian Keuangan RI.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jawa Timur belum digunakan, kecuali untuk penanganan perlintasan sebidang dan penyesuaian jalur.
SRRL ditargetkan melayani hampir 300 ribu perjalanan per hari, terutama dari wilayah Sidoarjo menuju Surabaya. Ke depan, pengembangan jaringan akan mencakup tiga koridor utama yang menghubungkan Surabaya dengan Gresik, Lamongan, Babat, hingga Mojokerto.
“Transportasi publik berbasis rel ini menjadi solusi strategis untuk mobilitas kawasan aglomerasi Surabaya Raya sekaligus mendukung transisi energi hijau,” pungkas Nyono. (dev/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




