Inovasi Smart Farming Machida oleh Petani di Sumenep: Satu Pohon Melon Bisa Hasilkan 30 Buah

Inovasi Smart Farming Machida oleh Petani di Sumenep: Satu Pohon Melon Bisa Hasilkan 30 Buah Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, melakukan panen melon saat mengunjungi kawasan smart farming hortikultura di Desa Kaseangan, Kecamatan Manding, Senin (19/1/2026).

SUMENEP, BANGSAONLINE.com – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, melakukan kunjungan kerja ke kawasan smart farming hortikultura di Desa Kaseangan, Kecamatan Manding, Senin (19/1/2026).

Kunjungan ini bertujuan untuk memantau langsung keberhasilan budidaya melon dengan metode Machida yang dikelola oleh petani milenial bernama Khalik.

Metode Machida merupakan teknik pertanian berbasis teknologi asal Jepang yang kini tengah diuji coba di Kabupaten Sumenep. Keunggulan utamanya terletak pada produktivitas yang sangat tinggi. Jika pada pola konvensional satu batang pohon biasanya hanya menghasilkan sedikit buah, dengan metode ini satu pohon mampu memproduksi 20 hingga 30 buah melon.

Dalam peninjauan tersebut, Bupati Fauzi melihat langsung sistem kerja di dalam green house, mulai dari mekanisme tanam hingga perawatan intensif. Ia pun berkesempatan memanen dan mencicipi langsung buah melon hasil inovasi teknologi tersebut.

“Kualitas melon dengan metode Machida ini sangat berbeda dibandingkan metode lainnya. Teksturnya lebih bagus, renyah, tingkat kemanisannya pas, dan rasanya membuat orang ingin terus mencoba,” ujar Achmad Fauzi.

Ia menegaskan bahwa hasil ini membuktikan keunggulan teknologi smart farming dalam menciptakan komoditas pangan yang lebih berkualitas dibandingkan pola tanam tradisional.

Melihat potensi besar di Desa Kaseangan, Bupati Fauzi berencana menjadikan Dusun Oro sebagai pusat pelatihan smart farming. Ia berharap keberhasilan Khalik dapat memotivasi generasi muda lainnya untuk memanfaatkan lahan tidak produktif menjadi sumber ekonomi baru melalui teknologi.

“Saya berharap wilayah ini bisa menjadi tempat latihan berbagai metode smart farming. Green house yang ada perlu dikembangkan dengan memanfaatkan lahan-lahan tidak produktif, sehingga bisa menjadi sarana pembelajaran sekaligus pemberdayaan bagi para milenial desa,” tambahnya.

Sejalan dengan visi tersebut, Katimker Penyuluh Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian RI wilayah Sumenep, Dewo Ringgih, menyatakan bahwa metode Machida adalah bagian dari agenda besar modernisasi pertanian nasional.

“Metode Machida ini mengedepankan efisiensi dan kualitas hasil. Ini menjadi contoh bahwa pertanian modern bisa memberikan nilai tambah tinggi jika dikelola dengan tepat,” ucap Dewo Ringgih.

Menurutnya, kehadiran sosok petani milenial yang inovatif adalah modal krusial bagi daerah untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian di masa depan.