Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, saat kunjungan kerja ke Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur.
“Kami akan berjuang agar ada sinkronisasi regulasi antara pemerintah pusat, khususnya Kemenpora dan Kemendagri, sehingga kewenangan di daerah jelas dan tidak saling tumpang tindih,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur, M. Hadi Wawan Guntoro, memaparkan data terbaru terkait kebugaran jasmani anak dan pemuda.
Pada 2024, anak usia 10-15 tahun yang masuk kategori “baik ke atas” mencapai 10,2 persen, naik dari 6,78 persen pada 2023. Namun, anak dengan kebugaran kategori “kurang sekali” masih tinggi, yakni 46,7 persen, sementara kategori “kurang” mencapai 24,3 persen.
“Anak-anak ini akan menghadapi masa depan dengan dinamika dan tekanan yang tinggi. Mereka tidak hanya membutuhkan kesehatan fisik, tetapi juga keseimbangan psikis karena olahraga kemasyarakatan ini membuat bahagia dan merakyat di tengah-tengah masyarakat,” urai Wawan.
Ia menambahkan, penelitian menunjukkan aktivitas fisik berperan penting dalam meningkatkan fungsi otak, konsentrasi, kreativitas, hingga kemampuan pemecahan masalah. Anak yang aktif secara fisik cenderung memiliki kinerja akademik lebih baik.
Dari sisi pemuda, laporan Dispora mencatat tingkat literasi fisik berada pada skor 3,38 dari skala 1-5 atau kategori sedang. Tingkat partisipasi pemuda dalam berolahraga tercatat 30,9 persen, tertinggi dibanding kelompok usia lain.
Namun, kebugaran jasmani pemuda kategori “baik ke atas” baru 6,9 persen, sedangkan kategori “kurang sekali” masih mendominasi hingga 58,2 persen.
“Data ini menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah. Penguatan olahraga masyarakat harus menjadi prioritas kebijakan, karena kebugaran jasmani yang rendah berpotensi mengancam produktivitas dan angka harapan hidup generasi muda,” ucap Wawan. (rev/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




