Anak-anak bermain egrang. Bersahabat, bergembira, belajar, berkarya. Ini dunia anak yang nyata, bukan games yang maya, Bung! Foto: devi fitri afriyanti/BANGSAONLINE
Selain penampilan egrang, juga camping brown, dan area polo lumpur (satu team 15). Disiapkan pula home stay untuk wisatawan. Kesemuanya berada di tanah milik Suporaharno seluas 4 ha.
Soal penamaan tanoker sendiri, berasal dari bahasa Madura yang artinya kepompong. Harapannya, nanti bisa menjadi kupu-kupu yang indah.
Kesulitan merintis, diakui Sukoraharjo, muncul konflik pada anak-anak. "Tim dari Garin Nugroho ke sini, untuk casting film. Ternyata, pemain lama tak lolos, sementara yang baru lolos. Mereka yang tak lolos protes. Yah, seperti itu dunia anak-anak," kata dia.
Dia mengaku, kadang operasionalnya kurang. “Terkadang kita kekurangan pendamping, untuk mendampingi pengembangan bakat-bakat mereka, tetapi kita juga bekerja sama dengan adik-adik mahasiswa, mengajari nari, drama, alat musik,” kata Suporaharjo.
Dia berharap, upayanya bisa memajukan desanya, mulai dari budaya dan ekonomi. (devi fitri afriyanti/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






