Wabup Asluchul Alif bersama Admin and Relations Manager PT Cargill Indonesia, Adi Suprayitno saat menghadiri halal bihalal dan penutupan program promosi dan pencegahan stunting fase 2. foto: ist.
GRESIK,BANGSAONLINE.com - Program pencegahan stunting berbasis desa yang dijalankan PT Cargill Indonesia menegaskan pentingnya peran komunitas dalam menekan gizi kronis anak.
Selama empat tahun terakhir, PT Cargill Indonesia menjalankan program promosi dan pencegahan stunting berbasis desa melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di enam desa di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
Program ini menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya melalui layanan kesehatan, melainkan membutuhkan investasi jangka panjang pada pengetahuan dan kekuatan komunitas.
Program yang dimulai pada 2022 tersebut kini menuntaskan fase kedua dengan memperluas cakupan desa sasaran serta memperdalam pendekatan berbasis komunitas.
Pada fase awal, program difokuskan pada tiga desa, kemudian diperluas ke tiga desa lainnya dengan menggandeng Penala Samahita Parma (Penala) sebagai mitra pelaksana.
"Program ini sejak awal dirancang untuk mendorong pencegahan stunting yang berangkat dari desa. Penekanan utamanya adalah penguatan pengetahuan dan peran komunitas," ujar Admin and Relations Manager PT Cargill Indonesia, Adi Suprayitno.
Adapun enam desa yang menjadi lokasi program meliputi Manyarejo, Manyarsidomukti, Manyarsidorukun, Peganden, Leran, dan Banjarsari yang seluruhnya berada di Kecamatan Manyar, kawasan penyangga industri di Kabupaten Gresik.
Penutupan fase kedua program tersebut dikemas dalam kegiatan bertajuk “Penutupan Program Promosi dan Pencegahan Stunting di Desa Fase 2: Refleksi dan Strategi ke Depan” yang dirangkaikan dengan halal bihalal di Hotel Horison Gresik, Senin (30/3/2026).
Forum ini menjadi ajang evaluasi bersama antara penerima manfaat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan desa untuk membahas keberlanjutan upaya pencegahan stunting.
Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak dan tidak dapat dilakukan secara parsial.
"Penurunan stunting ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Tidak bisa hanya pemerintah daerah, tidak cukup Dinas Kesehatan, tidak cukup KBPPPA, dan tidak bisa hanya perusahaan. Ini harus kolaboratif," tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar setiap program yang dijalankan benar-benar berorientasi pada dampak nyata.
"Target utama kita adalah penurunan stunting. Program boleh banyak, relawan boleh banyak, tapi kalau tidak berdampak, itu yang harus kita evaluasi," ujarnya.
Mengusung tema “Rukun Desane, Guyub Wargane, Ambalas Stuntinge”, Cargill menekankan bahwa stunting merupakan persoalan kolektif.
Penanganannya membutuhkan keterlibatan warga, dukungan pemerintah, peran sektor swasta, serta penguatan organisasi sosial di tingkat desa.
Forum ini berfungsi menyelaraskan isu stunting dengan perencanaan serta penganggaran pembangunan desa.
Menurut Adi, penguatan pengetahuan di tingkat komunitas menjadi prasyarat penting bagi perubahan perilaku hidup sehat.
Dari proses itu diharapkan penurunan prevalensi stunting dapat berlangsung lebih berkelanjutan.
"Kami tidak ingin hadir hanya sebagai donor program. Kami berupaya membangun nilai bersama dan transformasi sosial di komunitas sekitar," pungkas Adi. (hud/van)

























