Tafsir Al-Hajj 34-35: Al-Mukhtib, Siapa Dia?

Tafsir Al-Hajj 34-35: Al-Mukhtib, Siapa Dia? Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.

Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie

Rubrik ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.

Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 34-35. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.

34. Lakum fîhâ manâfi‘u ilâ ajalim musamman tsumma mahilluhâ ilal-baitil-‘atîq

Bagi kamu padanya (hewan hadyu) ada beberapa manfaat, sampai waktu yang ditentukan, kemudian tempat penyembelihannya berada di sekitar al-Bait al-‘Atīq (Tanah Haram seluruhnya).

35. Wa likulli ummatin ja‘alnâ mansakal liyadzkurusmallâhi ‘alâ mâ razaqahum mim bahîmatil-an‘âm, fa ilâhukum ilâhuw wâḫidun fa lahû aslimû, wa basysyiril-mukhbitîn

Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah).

TAFSIR

“Wa basy-syir al-mukhtibin”. Beri kabar gembira orang yang mukhbit. Sungguh berbahagia mereka yang bergelar mukhbit. Ideom yang tidak populer dan banyak kalangan yang belum mengerti, lalu dijelaskan sendiri oleh Tuhan.

Asli makna al-mukhbit adalah santun, khusyu’, tawadlu’, tangguh, dan sebangsanya. Agar lebih tepat, Tuhan memberi uraian langsung dalam empat kriteria, yakni :

Pertama, “al-ladzin idza dzukir Allah wajilat qulubuhum”. Mereka yang hatinya bergetar merespons ketika nama Allah disebut. Hal itu karena keimanan mereka sangat kuat dan mendalam. Lalu membentuk jiwa reflektif yang dipenuhi keTuhanan, sehingga tidak ada ruang bagi hawa nafsu. Di mana saja dia berada, dia merasa berada persis di hadapan Tuhan.

Abu Abdillah al-Qurthuby menyelaraskan ayat kaji ini dengan ayat lain yang berbicara tentang al-qur’an kala dibacakan di hadapan orang beriman. Hal itu karena kita tak mungkin melihat Allah, sehingga memakai medianya lebih kena. Cukup diambil tiga ayat sebagai pendukung tafsir ini:

Pertama, al-Anfal ayat 2. Selain hati mereka bergetar dan hanyut dalam firman suci, keimanan mereka makin bertambah dan kepasrahan kepada-Nyan makin mantap. Makin membaca, makin sering mendengar ayat al-qur’an, makin cerah menghadapi hidup ini, karena merasa terus dipandu dan bersama Tuhan.

Kedua, al-Zumar ayat 23. Orang beriman yang mendengarkan ayat suci al-qur’an dibacakan, kulitnya serasa berkerut-kerut merinding kedinginan karena super takut akan siksa Tuhan yang mungkin menimpa. Lalu perlahan menjadi lunak dan berseri karena janji kenikmatan surgawi yang bakal dinikmati. Memang bodi ini sedang di dunia, tapi sudah bisa merasakan suasana akhirat.

Ketiga, al-Maidah ayat 83. Kala mereka mendengar ayat suci al-qur’an dibacakan, air matanya berlinang membasahi pipi. Nurani mereka menerima dan memahami, betapa kebenaran al-qur’an adalah kebenaran absolute yang bersifat Ilahiyah. Lalu, spontan menengadahkan tangan dan berdoa: Ya Tuhan, daftarkan diri ini masuk golongan hamba-Mu yang bersaksi atas kebesaran-Mu, atas kebenaran Firman-Mu.

Kedua, kriterian al-Mukhbit berikutnya adalah: “wa al-shabirin ‘ala ma ashabahum”. Sabar atas musibah yang menimpa. Ada dua kata kunci di sini: shabar dan mushibah. Sabar, Shabara, tetap tangguh dan tidak bergoyah. Dari huruf Shad, Ba’, dan Ra’ ini juga bermakna pahit. Jadi tidak enaknya bersabar itu seperti menahan rasa pahit yang mesti ditelan.

Ada bersabar atas kepatuhan, ketaaqwaan. “al-shabr ‘ala al-tha’ah”. Seberat apapun, jika itu perintah Tuhan, ya tetap kita jalani sebisa mungkin. Ada pahitnya? Ada. Semisal shalat tahajjud. Tak perlu diragukan lagi hikmahnya. Shalat shubuh berjamaah. Waw, tak ragu lagi kebesaran hikmahnya. Tapi pasti malas, kan?

Ya, bagi yang tidak biasa sungguh pahit seperti menelan jamu pahit. Tapi bagi yang sudah biasa, bukan main limpahan kabajikannya, baik kesehatan, maupun rezeki. Siapa rajin bangun pagi, shalat sunnah dua rakaat sebelum shubuh, sebaiknya dilakukan di rumah, lalu ke masjid untuk shalat shubuh berjamaah. Waw, Itu lebih baik dibanding dunia seisinya. Begitu sabda Rasulullah SAW.

Kedua, sabar atas maksiat. Ini sejatinya kebalikan dari shabar al-al-tha’ah. Tapi ini lebih pada bertahan dan ngempet. Bahkan kadang orang bisa rajin beribadah, tetapi diuji kenikmatan maksiat rontok. Contohnya para koruptor, yo santri, yo islam, yo ngerti agama, bahkan menteri agama, kok yo maling uang rakyat.

Pak Mar’ie Muhammad pernah menjabat menteri keuangan negeri ini dan dia sangat shalih. Katanya, saat menjabat masih ngontrak rumah dan seterusnya hidup sederhana dan “miskin”. Setiap ada hadiah atau parcel digeledah sendiri. Yang wajar diterima, yang berharga pasti dikembalikan.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO