DARI KIRI: Dr Achmad Rubaie, Dr Afif Zamroni, Prof Dr Romdoni Wahyu Sururie, Prof Dr Ahmad Tholabi Kharlie, Syaikh Faraj Salim dan Dr Zkaria Muhtadi, dalam acara pembukaan Asesmen Lapangan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Program Magister Hukum Keluarga Islam Universitas KH Abdul Chalim (UAC) Pacet Mojokerto Jawa Timur, Sabtu (23/5/2026). Foto: MMA/bangsaonline
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com – Prof Dr Romdoni Wahyu Sururie, Guru Besar Universitas Sunan Gunung Jati Bandung Jawa Barat, menegaskan bahwa Program Magister Hukum Keluarga Islam Universitas KH Abdul Chalim (UAC) akan menjadi ilmu layak jual. Tapi tentu dengan syarat.
“Jika program ini bisa menyelesaikan problem-problem rumah tangga,” ujar Prof Dr Romdoni Wahyu Sururie dalam acara pembukaan Asesmen Lapangan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Program Magister Hukum Keluarga Islam Universitas KH Abdul Chalim (UAC) Pacet Mojokerto Jawa Timur, Sabtu (23/5/2026).
BACA JUGA:
- Amirulhaj Tinjau Adahi, Kiai Asep Pastikan Penyembelihan Dam Jemaah Haji Sah Secara Syariah
- Jelang Armuzna, Ini Taushiah Penting Amirulhaj Prof Kiai Asep kepada Jemaah Haji dan Petugas Haji
- Kiai Asep Cukup Persiapan Dua Bulan, Jika PP Amanatul Ummah Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Muktamar NU
- Siap Tanggung Konsumsi Muktamirin, Kiai Asep Persilakan Amanatul Ummah Ditempati Muktamar ke-35 NU
Artinya, program ini akan memancing minat pasar atau calon mahasiswa jika para sarjana lulusan program tersebut bisa memberikan solusi terhadap problem-problem rumah tangga yang banyak terjadi di masyarakat. Karena itu, program tersebut harus dikelola secara kreatif dan professional.
Menurut Prof Romdoni, aura UAC sangat bagus baik secara infrasrtuktur maupun akademik dan secara public relations. Terutama dalam menyambut tamu.
“Bagi dosen yang jam terbangnya sudah tinggi, begitu masuk (UAC) penciumannya sudah bisa merasakan,” ujar Prof Romdoni yang langsung disambut tawa civitas akademik UAC, terutama para guru besar.
Prof Romdoni hadir dalam acara tersebut sebagai asesor I. Ia datang bersama Prof Dr Ahmad Tholabi Kharlie, dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai asesor II.
“Asesor itu datang bukan untuk mencari kekurangan tapi untuk melakukan dialog,” ujar Prof Romdoni.
Pendapat senada disampaikan Prof Dr Ahmad Tholabi Kharlie. Menurut dia, asesor adalah mitra bagi perguruan tinggi atau civitas akademika.
“Asesor bukan polisi dan jaksa, tapi mitra. Jadi gak boleh bersikap jumawa,” ujar Tholabi Kharlie yang juga Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Menurut dia, asesor dikirim oleh BAN-PT untuk memberikan penilaian yang terbaik kepada perguruan tinggi. Apalagi UAC memiliki tradisi atau ciri khas sangat baik dalam falyukrim dhaifahu. Ini tentu tak lepas dari figur Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah.
“Karena itu ada bukunya yang ditulis Pak Mas’ud Adnan, Kiai Miliarder Tapi Dermawan,” ujar Ahmad Tholabi Kharlie yang mengaku kedatangannya ini untuk kedua kalinya sebagai asesor di UAC.
Acara pembukaan asesmen lapangan BAN-PT untuk Program Magister Hukum Keluarga Islam UAC berlangsung khidmat. Tapi juga penuh ger-geran. Suasana gelak tawa itu dipancing Dr Afif Zamroni, Direktur Pascasarjana UAC saat menyampaikan pidato selamat datang dan ucapan terimakasih.
Menurut Gus Afif – panggilan akrab Afif Zamroni – hadir juga di tengah-tengah kita Dr Achmad Rubie yang mendapat mandat dari Abah Yai Asep untuk menyampaikan sambutan.
Siapa Achmad Rubaie? “Anggota DPR RI pada masanya,” ujar menantu Kiai Asep itu yang langsung disambut tawa para guru besar dan civitas akademika UAC yang memenuhi ruangan aula pascasarjana UAC.
Saat menyampaikan sambutan mewakili Kiai Asep, Achmad Rubaie mengaku sangat berat. “Tapi kalau Pak Yai yang telepon saya sami’na wa’atha’na,” ujar mantan anggota DPR RI itu.
Menurut Rubaie, Kiai Asep sekarang sedang menjalankan tugas negara sebagai amirulhaj sehingga tak bisa hadir dalam acara ini.
“Semula Pak Yai ragu untuk menerima tugas sebagai Amirulhaj. Tapi dirovokasi Cak Ud bahwa itu penting karena prestige dan juga untuk menambah curriculum vitae,” ujar Rubaie sembari tersenyum. Yang dimaksud Cak Ud adalah M. Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE yang juga hadir dalam acara tersebut.
Politisi asli Sampang Madura itu menegaskan bahwa Kiai Asep adalah ulama pecinta NKRI.
“Kecintaannya terhadap NKRI itu diwujudkan dalam gagasan besar, sesuai keahliannya yaitu pendidikan, diantaranya mendirikan UAC,” ujar Achmad Rubaie yang kini menjabat Ketua Dewan Pengawas Yayasan Unitomo Surabaya.
Bahkan, menurut Rubaie, Kiai Asep tidak berhenti hanya mendirikan Madrasah Aliyah-MTs dan SMA-SMP tapi juga mendirikan perguruan dengan mencatumkan nama ayahandanya, KH Abdul Chalim.
“Jadi tidak hanya mengandung intelektualitas tapi juga spiritulitas. Tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat tapi juga mengalirkan pahala,” ujar Rubaie yang juga mantan anggota DPRD Jatim.
Menurut Rubaie, Kiai Asep terus berusaha untuk membesarkan UAC. “Pak Yai Asep akan membuka program pertanian, teknik yang ada nuklirnya, dan kedokteran,” ujar Rubaie sembari mengatakan bahwa untuk kedokteran UAC sudah punya modal SDM.
“Kalau tidak salah, lima putri dan menantu Pak Yai Asep dokter,” tambahnya sembari mengatakan bahwa Kiai Asep berkirim surat kepada presiden terkait fakultas kedokteran dan pengembangan UAC.
Hadir dalam acara itu para Wakil Rektor, yaitu Prof Dr Eng Fadly Usman, Dr Zakaria Muhtadi, Dr Affan Hasnan, dan civitas akademika lainnya.
“Abah Yai dan Pak Rektor tidak bisa hadir karena sedang menunaikan ibadah haji. Kita doakan semoga selamat, lancar dan pulang dengan membawa gelar haji mabrur,” Gus Afif dalam sambutannya. Rektor UAC adalah Dr KH Mauhidur Rokhman (Gus Muhib).
Juga hadir Syaikh Faraj Salim asal Mesir dan para guru besar. Antara lain Prof Dr Abdul Haris, Prof Mannan, Prof Bahruddin, dan guru besar lainnya. Tampak juga Muhammad Fachruddin, Wakil Ketua PAN Jatim dan para tamu undangan lainnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




