Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo.
Ketiga, lanjut Agus, memperkuat program housing inclusion atau akses pembiayaan perumahan, terutama bagi generasi muda yang kesulitan memiliki rumah di Jakarta.
“Akses pembiayaan rumah harus menjadi bagian dari strategi kota karena banyak anak muda yang kesulitan menjangkau harga rumah di Jakarta,” ujarnya.
Keempat, investment enablement dengan membangun kepercayaan investor. Agus menilai kota global tidak dapat dibangun hanya mengandalkan APBD, melainkan membutuhkan investasi yang kuat dan berkelanjutan.
“Peran Bank Jakarta bukan sekadar menghimpun dana dan menyalurkan kredit, tetapi menjadi penghubung antara warga, UMKM, pemerintah, dan investor dalam satu ekosistem kota,” urai Agus.
Ia menekankan, prinsip no one left behind dalam transformasi digital dan pembangunan kota.
“Teknologi tanpa inklusi hanya akan menciptakan kesenjangan yang semakin lebar. Karena itu, transformasi digital harus memberi manfaat bagi mereka yang selama ini tertinggal,” sambungnya.
Agus menambahkan, peran BUMD kini berkembang menjadi penggerak ekosistem pembangunan.
“Ukuran keberhasilan Jakarta bukan seberapa tinggi gedung yang berdiri, tetapi seberapa banyak mimpi yang dapat diwujudkan oleh warganya. Jika MRT menghubungkan titik-titik kota, maka Bank Jakarta akan menghubungkan peluang-peluang kehidupan,” pungkasnya. (rom)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




