Hari menuturkan, terdapat dua langkah konkret yang akan dilakukan setelah pelaksanaan FGD. Pertama, memperjuangkan penetapan cagar budaya melalui Fraksi PDIP DPRD Sidoarjo.
Kedua, menggelar kegiatan edukasi mengenai pemikiran Soekarno yang menyasar generasi muda.
“Insya Allah tanggal 29 Juni nanti kami gelar acara itu. Rekomendasi dari FGD akan kami perjuangkan, terutama agar peninggalan Bung Karno yang masih nyata bisa ditetapkan menjadi fakta sejarah yang sah,” pungkas Hari.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Komunitas Sidoarjo Kuno, Sudi Harjanto memaparkan hasil penelusuran yang dilakukan timnya terkait keberadaan Bung Karno di Sidoarjo.
“Sebenarnya jejak itu sudah lama diketahui, tapi kita butuh bukti fisik pendukung. Dan ternyata bukti fisik itu ada,” ujar Sudi.
Ia menjelaskan, bukti pertama berupa bangunan sekolah tempat Bung Karno pernah belajar yang hingga kini masih berdiri, yakni SDN Pucang II.
“Kondisinya masih ada, bahkan ruang kelasnya masih utuh,” katanya.
Selain itu, tim peneliti juga menemukan bukti berupa surat keputusan (beslit) yang berkaitan dengan penugasan ayah Bung Karno sebagai guru, mulai dari Ploso, Jombang, kemudian ke Sidoarjo, hingga akhirnya berpindah ke Mojokerto.
"Jadi secara literasi, ini sudah kuat,” tandas Sudi.
Bukti lain yang dinilai penting adalah adanya kesaksian sezaman dari pihak yang hidup pada periode yang sama dengan Bung Karno kecil.
“Ini yang paling penting, ada kesaksian Mr. Klaasen. Itu kesaksian yang didapat dari cucunya,” ungkapnya.
Menurut Sudi, cerita yang berkembang di tengah masyarakat sekitar turut memperkuat temuan tersebut.
"Fakta bahwa Bung Karno pernah sekolah dan hidup di Sidoarjo, meski hanya sekitar dua tahun, itu tidak terbantahkan," tegas Sudi Harjanto.
Ia menilai langkah DPC PDIP Sidoarjo untuk menindaklanjuti temuan tersebut sudah tepat. Sebagai peneliti sejarah, pihaknya akan terus menyampaikan data dan fakta yang diperoleh dari hasil penelusuran.
“Sebagai peneliti dan penelusur sejarah, kami akan menyampaikan data dan fakta. Seperti kata teman-teman, sejarah boleh keliru, tapi tidak boleh bohong,” tandas Sudi Harjanto. (sta/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




