Longsor di Bojonegoro membuat sebagian kampung hilang menjadi sungai. (foto: eki nurhadi/ BANGSAONLINE)
Sementara itu menurut Mashari, sebenarnya ia merasa khawatir apabila sewaktu-waktu terjadi longsor dan menyeret rumahnya. Tanah yang longsor persis berada di halaman rumahnya.
“Saya berencana pindah ke lokasi lain. Tetapi, kami pindah atas biaya sendiri,” ujarnya. Ia berharap pemerintah daerah memberikan perhatian pada korban longsor ini. Sebab, selama ini pemerintah daerah hanya mengecek kondisi longsor tetapi tidak ada upaya apa pun.
Sementara itu menurut Kasi Operasi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro, Mucharom, usai banjir tanah bantaran memang mudah terjadi longsor. Terutama di daerah tikungan sungai.
Ia menyebutkan, tanah bantaran di wilayah Bojonegoro yang dilaporkan longsor di antaranya di Desa Banjarsari, Kecamatan Padangan, Desa Brenggolo, Kecamatan Kalitidu, Kelurahan Jetak, Kecamatan Bojonegoro, dan Kelurahan Banjarjo, Kecamatan Bojonegoro.
Ia mengatakan, kondisi Sungai Bengawan Solo di wilayah Bojonegoro memang mengalami banyak kerusakan seperti longsor dan ambles. Salah satu penyebabnya karena sebelumnya ada kegiatan penambangan pasir mekanik secara masif mulai di wilayah barat hingga timur Bojonegoro. Namun, saat ini kegiatan penambangan pasir memakai mesin itu dilarang dan sering dilakukan operasi.
Kegiatan tambang pasir mekanik juga menyebabkan kaki penyangga jembatan Kalitidu-Malo turun beberapa sentimeter. Kondisi itu bila dibiarkan terus bisa membahayakan. “Pengambilan pasir yang diperbolehkan hanya yang memakai cara tradisional, sedangkan yang memakai mesin dilarang,” ujar Mucharom. (nur/dur)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




