Kepala Bapelu, Labat Wibowo bersama pejabat muspika saat lauunching budidaya jahe merah di Desa Kedanyang Kecamatan Kebomas, beberapa waktu lalu. foto: syuhud/ BANGSAONLINE
GRESIK, BANGSAONLINE.com - Program Budidaya tanaman jahe merah yang dulu digembar-gemborkan oleh Bapelu (Badan Penyuluh), bisa dibilang seperti petasan bantingan. Setelah meledak (booming) keras, lalu tidak terdengar gaungnya lagi.
Kondisi inilah yang terjadi di Desa Kedanyang Kecamatan Kebomas. Budi daya jahe merah di desa tersebut sekarang tidak terurus. Akibatnya, jahe merah pada mati dan kondisinya memprihatinkan.
Padahal, pada saat tanam awal dulu pemerintah terlihat sangat meyakinkan untuk bisa mengembangkan usaha budi daya jahe merah di Desa Kedanyang. "Mati mas jahe merahnya, karena tak terurus," kata Mat Ali, warga sekitar.
Menurut dia, pasca budi daya tanaman jahe merah dilaunching oleh para pejabat di lingkup Pemkab Gresik dan kecamatan, pihak berwenang tidak pernah menyambangi tanaman tersebut dan memberikan penyuluhan kepada warga.
Karena warga kesulitan merawat, akhirnya jahe merah yang konon memiliki nilai ekonomis tinggi tersebut dibiarkan tak terurus.
Sebelumnya, Bapelu Pemkab Gresik gencar mensosialisasikan kepada masyarakat agar gemar menanam jahe merah. Sebab, jahe merah tersebut memiliki nilai ekonomis tinggi karena laku ekspor.
Di Kecamatan Kebomas sedikitnya ada dua wilayah yang membudidayakan tanaman jahe merah atau yang dikenal dengan zingiber officinale var rubrum. Yakni, di Desa Randuagung dan Kedanyang Kecamatan Kebomas.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




