Rombongan Turis Amerika Kerasan di Desa Wisata Kemiren Banyuwangi

Rombongan Turis Amerika Kerasan di Desa Wisata Kemiren Banyuwangi Para turis Amerika ini menkmati makan cara tradisional - tanpa sendok, di desa Kemiren Banyuwangi.

“Saya jadi mengenal sawah lebih dekat. Ini menyenangkan, memberi inspirasi dan pengetahuan baru bagi saya pribadi,” tutur novelisyang sedang menyelesaikan project novelnya tentang seorang gadis China dan keluarganya, lengkap dengan latar belakang mereka sebagai petani.

Selain itu mereka juga diajak menikmati kudapan khas Desa Kemiren di tengah kebun dan rindangnya pepohonan. Makanan khas Osing seperti kue klemben, tape ketan yang dibungkus daun kemiri dan lepet mereka santap habis. Untuk minumannya pun mereka diajari menenggak langsung dari kendi. Karena sebagian besar tak terbiasa minum dari kendi, pakaian mereka sampai basah tersiram air.

Tak hanya itu, mereka juga menikmati makan siang berupa pecel pitik, lalapan dan sambal. Makan siang itu dikemas lewat acara tradisi selamatan desa yang diberi nama tumpeng srakad (tumpeng yang berisi sayur mayur rebus). Sebelum selamatan dimulai, peserta dipakaikan kain panjang atau jarit bagi yang wanita, dan udeng bagi yang laki-laki.

Melalui ritul selamatan itu, para bule diajak langsung memaknai filosofi tumpeng srakad yang bermakna hilangkan tingkah laku yang jelek. Sesudah itu mereka menikmati makan bersama tanpa sendok, tapi menggunakan tangan mereka, lauknya pecel pithik.

Rasa pecel pithik yang sedikit pedas, tak memupus keinginan mereka untuk berhenti makan. “It’s really spicy, but tasty. I like the chicken flesh,” cetus salah seorang peserta.

Setelah makan siang, hiburan khas masyarakat Kemiren seperti angklung paglak ditampilkan, menyusul tari gandrung yang menjadi welcome dance bagi setiap tamu yang datang ke.

Para turis itu juga ikut menari gandrung bersama saat selendang dikalungkan penari gandrung ke leher mereka. Yang menarik, walau pun dengan gaya yang sedikit kaku dan mengundang tawa masyarakat sekitar yang ikut menyaksikan, mereka tampak bersemangat mengikuti gerak tari penari gandrung aslinya.

Merasa puas menari, mereka kemudian diajak membuat makanan khas rakyat berupa pisang goreng dan kue cucur. Satu per satu mereka mencoba membuatnya. Setiap ada yang matang, langsung dicicipi. “Saya suka pisang goreng. Tempo hari pernah mencoba di Solo, rasanya manis. Pisang goreng disini juga tidak kalah enak,” kata mereka.

Setelah praktik membuat bikin kue cucur dan pisang gorang, para turis diajak merasakan sensasi menyangrai kopi secara tradisional. Meski sampai berkeringat terkena hawa panas dari tungku, mereka tetap antusias. “Kapan lagi bisa begini,” kata mereka ketawa renyah. (bw1/dur)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Cuaca Kurang Bersahabat, Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk Ditutup':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO