Aktivis HMI Cabang Makassar memblokade Jl Botolembangan yang terletak di depan Sekretariat HMI Cabang Makassar dari siang hingga malam hari.
Terlebih lagi Syukur menilai bahwa hak setiap warga negara mengungkapkan pendapatnya secara langsung melalui demonstrasi.
Menurutnya, pihaknya tidak akan jera dalam melakukan aksi kritik, meski lima kader ditangkap Polda Metro Jaya.
"Kami tidak pernah kapok dalam urusan begituan, ini urusan umat, urusan negara. Tidak mungkin kita akan kendor," ujar Syukur.
Tertangkapnya lima kader HMI, termasuk Sekjen, menurut Syukur merupakan tindakan preventif oleh pihak tertentu terhadap HMI. Pasalnya, lanjut Syukur, HMI dinilai sangat kritis dalam menyikapi peristiwa yang terjadi.
"Saya melihat ini adalah upaya untuk menekan kecilnya tensi pergerakan, sehingga kelompok yang dianggap kritis soal pernyataan Ahok itu kemudian mengambil posisi untuk tidak bergerak. Padahal yang paling kritis itu HMI," bebernya.
Di sisi lain, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, para kader HMI ditangkap lantaran ada yang melakukan penyerangan. "Mereka ada yang melakukan penyerangan terhadap petugas," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di PTIK-STIK, Selasa (8/11).
Tito menambahkan, penyidik akan mengembangkan hasil penyelidikan dan keterangan dari lima orang yang ditangkap. "Nanti kita akan kembangkan apakah ada kaitan dengan tokoh-tokoh yang menyuruh mereka untuk melakukan kekerasan itu," kata mantan Kepala BNPT tersebut.
Sejurus dengan itu, polisi juga tengah menyelidiki adanya aktor atau tokoh di balik kerusuhan demo 4 November 2016.
"Itu (soal aktor politik) dalam konteks kegiatan penyelidikan juga dilakukan oleh fungsi intelijen," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar.
Menurut dia, penyelidikan yang dilakukan tentunya akan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Penyelidikan juga tentang adanya dugaan pelanggaran hukum dan provokasi. "Semua harus berlandaskan hukum," ucap Boy.
Sementara Indonesian Police Watch (IPW) mengingatkan langkah Polda Metro Jaya menangkapi kader HMI tidak membuat kegaduhan baru. Bisa saja polisi dianggap tidak independen dan cenderung mengalihkan perhatian publik dari kasus Ahok.
Ketua Presidium IPW Neta S Pane berharap jajaran Polri bekerja profesional dan proporsional serta tidak mengedepankan arogansi. Langkah ini penting agar tidak menimbulkan kegaduhan baru.
"Jika mengedepankan arogansi, dengan cara menangkapi aktivis HMI, Polri bisa dituding tidak independen dan cenderung mengalihkan perhatian publik dari kasus Ahok," katanya melalui siaran persnya di Jakarta, Selasa (8/11).
Dampaknya, lanjut Neta, bukan mustahil akan muncul masalah baru. Mahasiswa dan aktivis akan melakukan aksi demo untuk mengecam Polri.
"Ujung-ujungnya bisa terjadi benturan antara polisi dengan mahasiswa, yang bisa merusak citra Polri. Semoga polisi bekerja profesional dan proporsional," tandasnya.
Indonesia Police Watch (IPW) mengingatkan bahwa aktivis HMI bersama para ustaz, habib, ulama, dan ratusan ribu umat Islam lainnya melakukan demo 411 (4 November) karena Polri dinilai lamban dalam memproses kasus Ahok.
"Ketika aktivis mahasiswa berdemo dan terjadi benturan, kenapa mereka yang cenderung dikriminalisasi dan langsung ditangkap. Sementara sumber masalahnya, Ahok yang dituduh menistakan agama cenderung dipolemikkan Polri dan kepolisian tidak main tangkap dalam kasus Ahok," kata Neta S Pane.
Semula, kata dia, dalam menangani kasus demo 411, Polri sudah bekerja profesional, proporsional, dan elegan. "Tapi kenapa pascademo 411, aparat kepolisian justru mempertontonkan arogansi, main tangkap, dan jemput paksa,'' kata Neta S Pane menjelaskan.
''Kenapa Polri cenderung menggunakan cara-cara Orde Baru dalam menghadapi aktivis mahasiswa," ujar Neta. Polri seharusnya menyadari peran mahasiswa dan aktivis sangat besar dalam menumbangkan kekuasaan Orde Baru hingga nasib Polri bisa seperti sekarang ini.
Menurut Neta, jika Polri benar benar bekerja profesional tentu tidak ada diskriminasi. "Dalam menangani kasus Ahok misalnya, Polri juga harus bekerja secepat menangkapi aktivis HMI," ujarnya. (mer/tic/yah/lan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




