Gus Solah: NU Kurang Hargai Mbah Hasyim

Gus Solah: NU Kurang Hargai Mbah Hasyim Dr Ir KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) saat meresmikan Pusat Kajian Pemikiran KHM Hasyim Asy'ari di Aula KHM Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. foto: RONY S/ BANGSAONLINE

Gus Solah menambahkan, sikap NU sebagai ormas Islam pertama yang menerima Pancasila secara resmi pada 1984 juga bagian dari sentuhan dan jasa Mbah Hasyim. Sebab, sikap NU itu didasarkan pada dokumen tentang hubungan Islam dan Pancasila yang ditulis oleh KH Ahmad Siddiq, yang merupakan salah satu santri Mbah Hasyim.

Lebih lanjut, Gus Solah menuturkan bahwa proses akomodasi substansi syariah Islam ke dalam sejumlah UU, seperti UU Perkawinan dan UU Peradilan Agama, yang dipelopori oleh KH Bisri Syansuri dan KH Wahab Chasbullah, juga tidak bisa dilepaskan dari peran Mbah Hasyim. Sebab, keduanya juga santri beliau.

"Jadi, saya mengambil kesimpulan bahwa yang memadukan Islam dan Indonesia adalah Mbah Hasyim. Seandainya Kiai Ahmad Siddiq, Kiai Bisri Syansuri dan Kiai Wahab Chasbullah bukan santri Mbah Hasyim, mungkin akan lain ceritanya," tandasnya.

Perpaduan Islam dan Indonesia itu, menurut Gus Solah, saat ini sedang ada yang coba merenggangkannya. "Kalau sampai upaya untuk melonggarkan sendi-sendi itu terjadi, saya khawatir bangsa kita akan mengalami lagi turbulensi," ungkapnya.

Untuk itulah, Pesantren Tebuireng mendirikan Pusat Kajian Pemikiran KH Hasyim Asy’ari.

Peresmian pusat kajian ini juga diisi dengan penyampaian Pesan Kebangsaan Pesantren Tebuireng. Dokumen berisi enam poin penting itu dibacakan langsung oleh Gus Solah di akhir acara.

Hadir dalam acara tersebut, mantan Menteri Agama Prof Dr KH Tolchah Hasan, direktur pascarasarjana UIN Jakarta Prof Dr Masykuri Abdillah. Juga wakil Rektor Unhasy Haris Supratno dan wakil pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). (rom/rev)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO