Tafsir An-Nahl 106: Sejak Dulu Perilaku Kafir itu Sangat Sadis

Tafsir An-Nahl 106: Sejak Dulu Perilaku Kafir itu Sangat Sadis Ilustrasi

Kejadian itu dilakukan tepat di hadapan Ammar dan dengan mata kepala sendiri. Ammar menyaksikan kedua orang tuanya mati dalam kekejaman para kafir. Kini giliran Ammar yang ditawari, mau kafir dengan meninggalkan agama Muhammad atau mati disiksa.

Berpikir sejenak dan akhirnya Ammar menyerah dan terpaksa menuruti semua perintah para kafir bengis itu. Ammar dipaksa berkata-kata kotor terhadap nabi Muhammad SAW, mengucapkan kata-kata kafir, tidak percaya Allah dan lain-lain yang akhirnya dia lolos dari siksaan dan kekejaman mereka.

Namun, setelah itu hatinya galau dan tidak tenang, takut dan sedih, bagaimana nanti dia mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Rasulullah SAW. Ia langsung sowan menghadap beliau dan mengutarakan semua kejadian yang dia alami. Sebelum memberi fatwa hukum, Rasulullah SAW bertanya: "Saat kamu berucap begitu itu, hati kamu bagaimana?". Ammar menjawab: "Itu hanya di mulut saja, sementara hati kami tetap beriman ya Rasulallah". Nabi: "Ya bagus, jika mereka kembali memaksamu lagi, maka lakukan yang sama".

Jawaban Nabi ini direspon oleh Allah SWT dengan turunnya ayat kaji ini (106), bahwa pemaksaan agama itu tidak berefek hukum apa-apa. Keimanan itu ada pada hati yang paling dalam. Sementara temannya yang lain, seperti Bilal, Khabbab dan Salim tetap pada pendiriannya dan tidak mau berbuat dusta kepada para kafir meski dibolehkan. tetap berteriak Allah, Allah, Allah dan Bilal tetap berucap "Ahad, Ahad, Ahad, Tuhan yang Esa, Esa, Esa meski babak belur dan bersimbah darah.

Dari sikap dua sahabat, yang tetap jujur dalam iman dan yang mau pura-pura murtad sama-sama dibenarkan oleh agama. Keduanya sama-sama punya sisi kelebihan dan risiko. Seperti Bilah, Khabbab dan Salim sungguh muslim yang konsis dan siap mati saat itu, karena kematian dalam membela iman adalah tujuan utama. Tentu surga langsung diperuntukkan baginya. Kekurangannya adalah, dia tidak bisa lama membela agama bersama umat islam lain ke depan, padahal kegigihannya sangat dibutuhkan dalam dakwah islamiah.

Sementara sikap Ammar yang membodohi para kafir punya kelebihan, bahwa fisiknya aman dari siksaan dan kekejaman, bisa berkiprah dalam dakwah islamiah ke depan, bisa mendampingi dan membantu teman yang lain. Sementara kekurangannya adalah kekhawatiran akan melesetnya iman yang terus-menerus dibungkus dengan kemunafikan. Khawatir lama-lama akan terbiasa berbohong, lalu terbiasa berucap kafir, sehingga keimanan berpotensi lepas beneran tanpa terasa, tanpa disadari. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO