Jumat, 04 Desember 2020 15:21

Terkait Ucapan Natal, ​Ketua MUI Jatim Dapat WA Tokoh Hindu Bali, Setuju Salam Tak Perlu Dicampur

Jumat, 03 Januari 2020 14:57 WIB
Editor: MA
Terkait Ucapan Natal, ​Ketua MUI Jatim Dapat WA Tokoh Hindu Bali, Setuju Salam Tak Perlu Dicampur
KH Abdusshomad Buchori, Ketua MUI Jatim. foto: BANGSAONLINE.com

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur KH Abdusshomad Buchori menegaskan bahwa ucapan Assalamu’alaikum mengandung unsur teologis, karena itu umat Islam, jika pidato – termasuk pejabat - tak perlu menambah dengan ucapan salam agama lain.

“Toleransi itu adalah menerima perbedaan, bukan penyeragaman,” tegas Kiai Abdusshomad Buchori saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS) Surabaya, Jumat (3/1/2020).

Di hadapan ribuan jamaah salat Jumat, Kiai Abdusshomad mengaku pernah ditanya seseorang soal ucapan selamat natal. Ia secara tegas menjawab bahwa ucapan salam agama itu tak perlu dicampur dan diseragamkan. Ternyata di tengah respons pro-kontra, Kiai Abdusshomad mengaku mendapat pesan lewat WhatsApp (WA) dari tokoh agama Hindu di Bali.

Isi WA-nya? “Dia setuju dengan pendapat saya karena dia juga merasa sulit untuk menirukan ucapan Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” kata Kiai Abdusshomad.

Selama ini, agar dianggap toleran, para tokoh selalu mengucapkan salam berbagai agama, setiap mau mengawali pidato. Bagi tokoh muslim, setelah mengucapkan Assalamu’alaikum, lalu mengucapkan salam agama Hindu, Budha, Kristen, Konghuchu dan seterusnya.

Begitu juga tokoh agama non-muslim. Agar dianggap toleran, mereka juga mengucapkan Assalamu’alaikum. Padahal melafalkan Assalamu’alaikum tidak mudah, apalagi jika lengkap dengan warahmatullahi wabarakatuh. Bagi yang tidak biasa melafalkan bahasa Arab, justru tak fasih dan kadang jadi bahan tertawaan karena tidak pas.

Karena itu tokoh Hindu di Bali itu sepakat dengan pandangan Kiai Abdusshomad, bahwa salam agama tak perlu dicampur-campur. Bagi dia, seseorang cukup mengucapkan salam sesuai agama yang diyakini.

Menurut Kiai Abdusshomad, umat Islam sudah punya pedoman dan petunjuk yaitu al-Quran. Karena itu al-Quran itulah yang harus dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hidup dan berinteraksi dengan penganut agama lain, yaitu memelihara toleransi. “Lakum dinukum waliyadin,” kata Kiai Abdusshomad. Artinya, bagimu agamamu, bagiku agamaku. (tim)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Selasa, 01 Desember 2020 16:52 WIB
PROBOLINGGO, BANGSAONLINE.com – Meletusnya Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, tidak mengakibatkan kenaikan material vulkanik di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo.Namun demikian, status Gunung Bromo tetap level II atau waspada. Sehingga pengunju...
Sabtu, 28 November 2020 22:34 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan --- Nahdlatul Ulama (NU) punya khasanah (bahasa) baru: Neo Khawarij NU. Istilah seram ini diintroduksi KH Imam Jazuli, LC, MA, untuk mestigmatisasi kelompok kritis NU: Komite Khittah Nahdlatul Ulama (KKNU). Khawarij ...
Rabu, 02 Desember 2020 21:44 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*39. walawlaa idz dakhalta jannataka qulta maa syaa-a allaahu laa quwwata illaa biallaahi in tarani anaa aqalla minka maalan wawaladaanDan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, ...
Kamis, 03 Desember 2020 15:46 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya. Silakan kirim...